Arsip Blog

Sabtu, 08 Oktober 2016

AKHIR ZAMAN

Nabi memprediksi suatu masa dimana Al qur’an akan mudah didapat, dibaca secara luas, tapi tidak diikuti. Diriwayatkan dari Muadz bahwa Nabi Saw bersabda :
Akan muncul huru hara dimana kemudian sejumlah uang dikumpulkan dan Al qur’an pun dibuka dan ia dibaca baik oleh orang-orang beriman maupun oleh orang-orang kafir, laki-laki maupun perempuan,  tua maupun muda. Seseorang akan membacanya dan berseru,” Tidak ada yang mau !” Lalu ia duduk di dalam rumahnya dan membuat ruang tersendiri seperti masjid  di dalam rumahnya Lalu ia akan mengada-ngadakan hal baru dalam agama yang tidak ditemukan dalam Kitabullah atau sunah rasulullah. Waspadalah terhadap bid’ah yang mereka buat, karena sesungguhnya hal  tersebut akan menyesatkan kalian .” (HR Muslim, Abu Dawud, Ad-darimi)
Dalam hadis ini dan hadis –hadis lainnya. Nabi Saw mengawali sabdanya dengan ungkapan “ akan muncul huru-hara di mana kemudian sejumlah besar uang dkumpulkan..” Kini sebenarnya kita sering menyaksikan ketidak jelasan semacam itu. Di tiap-tiap mesjid kita menemukan orang-orang merogoh sakunya untuk pengumpulan  dana, dimana jutaan uang terkumpul katanya untuk tujuan kegamaan, namun hanya Allah yang tahu kemana dan bagaimana uang tersebut di salurkan.
Selanjutnya hadis tersebut menyebutkan,” dan Al qur’an akan dibuka.” Nabi Saw memberi tahu kita bahwa pada akhir zaman Al qur’an akan dibuka. Perhatikan dengan cermat  kata “al Qur’an akan di dibuka (yuftah) dan bukan “ Al qur’an akan dipelajari (yudras). Terbuka- berarti di buat mudah dibaca atau tersedia di mana-mana.
Kemudian sekarang ini kita menyaksikan anak-anak muslim sudah hafal seluruh ayat Al Qur’an dalam usia yang masih belia. Namun mereka tidak mempelajari maknanya. Dan orang tua tidak banyak yang menganjurkan anak-anaknya untuk mempelajari  hukum Allah (syariat). Mereka hanya menyekolahkan anak mereka untuk menghafal Al Qur’an di luar kepala dari awal sampai akhir.
Hadis itu kemudian menyebutkan,” Al Qur’an akan dibaca, baik oleh orang-orang yang beriman maupun kafir.     Disini, Nabi Saw telah meramalkan bahwa Al Qur’an akan dibaca baik oleh muslim maupun non muslim, Fenomena tersebut sedang terjadi hari ini dalam skala yang luas. Terjemahan al Qur’an sudah tersedia di semua toko buku dan perpustakaan, hampir dalam semua bahasa. Bukan saja para penulis muslim yang mengkaji dan mengomentarai AL Qur’an, tetapi juga orang-orang non muslim yang mengkaji dan mengomentari Al Qur’an tanpa kedalaman pengetahuan atau pemahaman terhadap isi, konteks atau makna yang terkandung dalam ayat-ayatnya.
Namun, Nabi Muhammad Saw mengatakan lebih jauh lagi, Seseorang akan membaca Al qur’an tetapi tidak mendapati orang yang menjadi pengikutnya,” Itu terjadi karena ia membacanya tanpa pengetahuan dan pemahaman agama. Para pemimpin dewasa ini mengatakan bahwa seseorang tidak perlu mempelajari Al Qur’an dari seorang ulama. Mereka mengatakan,” Bacalah sendiri Al Qur’an dan Hadist .”  Kebanyakan orang Islam tidak mengikuti arahan sesat itu kemudian menemukan diri mereka terasing, dia kemudian akan membuat  ruangan di dalam rumahnya seperti kantor untuk kepentingan keagamaan dan duduk di atas sajadahnya di depan komputer. Orang pada zaman modern telah menciptakan ruang obrolan Islam dan ‘masjid’ di internet.
Dengan mudahnya sekarang setiap muslim bahkan kafir, membuka-buka Al Qur’annya tanpa mempelajarinya secara keseluruhan, memungut satu ayat dan menjadikannya landasan untuk memberikan keputusan tentang sebuah kasus.  Alih-alih membuka Al Qur’an untuk mencari petunjuk tentang sebuah persoalan, mereka justru memulainya dengan pendapat mereka sendiri dan kemudian mencari-cari ayat dalam Al Qur’an yang mereka dapat gunakan untuk mendukung pendapat mereka, entah pendapat itu benar atau salah.
Tanpa mengetahui apa yang mungkin dikatakan oleh ayat-ayat lain tentang persoalan tersebut, atau tanpa mengetahui makna sebenarnya dari ayat itu , peristiwa dan kondisi dari turunnya suatu ayat, upaya itu akan menyesatkan dan melahirkan kesalahan (bid’ah) dalam agama. Nabi saw , menggambarkan situasi tersebut 1400 tahun yang lampau dan memperingatkan dengan tegas,” waspadalah terhadap bid’ah yang mereka buat , karena sesungguhnya hal tersebut akan menyesatkan kalian!’
Kini , setiap orang bisa belajar sendiri secara otodidak , menegaskan pendapatnya sendiri dan menolak pendapat orang lain seperti yang diprediksi oleh Nabi Saw bahwa  orang cinta kepada pendapatnya sendiri. Orang tidak lagi menerima nasehat  dan sangat fanatik dengan keyakinan masing-masing dan tidak peduli dengan masukan orang lain . Hubungan guru-murid  hampir-hampir  hilang. , padahal hubungan guru-murid dalam Islam ini sangat penting bagi pendidikan Islam. Hubungan guru-murid merupakan landasan untuk menyampaikan pengetahuan keislaman sejak turunnya wahyu pertama. Lagipula, bukanlah Allah bisa saja mengukir wahyu dengan cahaya di atas langit yang bisa dibaca dengan mudah oleh orang-orang Islam? Namun Dia memilih untuk mewahyukan Al Qur’an dan menyampaikannya lewat malaikat kepada para Nabi  dan kemudian dari generasi ke generasi. Wahyu terjadi dengan cara seperti itu bukan dengan alasan lain kecuali untuk menekankan bahwa setiap orang harus belajar dari seseorang yang lebih mengetahui. Dan ini sesuai dengan perintah dalam Al Qur’an:
Tanyakanlah olehnu kepada orang-orang yang berilmu, jika tiada mengetahui (Q 21;7)
Nabi Saw sendiri berkali-kali menegaskan bahwa ia belajar Al Qur’an melalui Malaikat Jibril. Jibril menyampaikan Al Qur’an kepada Nabi Saw dan beliau mengajarkannya kepada para sahabatnya, selanjutnya sahabat meneruskannya kepada para tabi’in dan demikian seterusnya dalam rantai tanpa putus.


Kelak, pada akhir zaman nanti akan muncul angin lembut yang akan mencabut nyawa setiap manusia yang masih memiliki keimanan meski hanya seberat biji siwi

Hidayatullah.com–Ka’bah dihancurkan. Benarkah itu? Ya, itulah yang terjadi pada akhir zaman kelak berdasarkan nubuwat Rasulullah. Sabda Rasulullah yang artinya:
Akan dibaiat seorang pria di lokasi antara Rukun (Yamani) dan Maqam (Ibrahim). Baitullah ini tidak akan dinodai kesuciannya kecuali oleh penduduknya sendiri. Jika penduduknya telah dinodai kesuciannya, maka tidak perlu ditanya lagi tentang kehancuran bangsa Arab. Kemudian akan datang orang-orang Habasyah menghancurkannya, dimana tidak akan ada lagi yang membangunnya sesudah itu. Merekalah orang-orang yang akan mengeluarkan harta yang tersimpan di dalam Ka’bah.” (HR Ahmad)
Dari Abdullah bin Amru, saya pernah mendengar Rasulullah bersabda:
يُخَرِّبُ الْكَعْبَةَ ذُو السُّوَيْقَتَيْنِ مِنَ الْحَبَشَةِ، وَيَسْلُبُهَا حِلْيَتَهَا، وَيُجَرِّدُهَا مِنْ كُسْوَتِهَا، وَلَكَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَيْهِ أُصَيْلِعَ أُفَيْدِعَ يَضْرِبُ عَلَيْهَا بِمِسْحَاتِهِ وَمِعْوَلِهِ.
“Ka’bah itu dirusak oleh Dzus-Suwaiqatain dari Habasyiah (Ethopia), dicopoti-nya perhiasan Ka’bah, dan dilepas kiswahnya (penutupnya). Seolah-olah aku menyaksikan Dzus-Suwaiqatain itu orang berbadan kecil yang botak, agak bengkok pergelangan kakinya (pengkor). Ia menghantam Ka’bah dengan sekop dan linggisnya.” (HR. Imam Ahmad)
Sebagaimana juga telah ditegaskan dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
يُخَرِّبُ الْكَعْبَةَ ذُو السُّوَيْقَتَيْنِ مِنَ الْحَبَشَةِ
“Ka’bah itu akan dihancurkan oleh Dzus-Suwaiqatain dari Habasyah atau Ethiopia.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kelak,  pada akhir zaman nanti akan muncul angin lembut yang akan mencabut nyawa setiap manusia yang masih memiliki keimanan meski hanya seberat biji siwi. Setelah peristiwa itu tidak ada lagi yang tersisa di muka bumi ini selain orang kafir dan manusia-manusia jahat yang tidak lagi menyebut nama Allah. Saat itu Baitullah sudah tidak ada yang merawatnya dan tidak seorangpun yang menjadikannya sebagai tempat beribadah. Hingga suatu hari, datanglah seorang laki-laki botak dari Habasyah yang bernama Dzu Suwaiqatain. Ia menghancurkan Ka’bah, merusak perhiasannya, melepas kiswahnya dan mencopoti batunya satu persatu dengan sekop dan cangkul. Setelah penghancuran itu, Baitullah tidak akan pernah dimakmurkan lagi untuk selama-lamanya.*



Mendekati Akhir Zaman, manusia akan hidup layaknya binatang, tidak ada norma dan aturan, tidak ada yang mencegah dan melarang mengumbar nafsu dan syahwat. Bahkan maksiat di jalanan

Betapa mengerikannya kondisi akhir zaman yang digambarkan oleh Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wassallam. Saat dimana akal manusia sudah tidak lagi berfungsi lantaran terlalu tebalnya cairan syahwat dan syubhat yang menutupinya.
Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wassallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لا تَفْنَى هَذِهِ الأُمَّةُ حَتَّى يَقُومَ الرَّجُلُ إِلَى الْمَرْأَةِ فَيَفْتَرِشَهَا فِي الطَّرِيقِ ، فَيَكُونَ خِيَارُهُمْ يَوْمَئِذٍ مَنْ يَقُولُ لَوْ وَارَيْتَهَا وَرَاءَ هَذَا الْحَائِطِ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak akan hancur
Umat ini hingga kaum pria mendatangi kaum wanita, lalu dia menggaulinya di jalan.Orang yang paling baik di antara mereka saat itu berkata, ‘Seandainya engkau menutupinya di belakang tembok ini.” [Diriwayatkanoleh Abu Ya’la Al-Haitsami berkata, “Dan perawinya adalah perawiash-Shahiih.” Lihat Maj’mauz Zawaa-id (VII/331)]
Dalam riwayat yang lebih umum Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wassallam menyatakan bahwa di antara tanda-tanda kiamat adalah , ”….menyebarnya zina” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka, sungguh benar apa yang beliau sabdakan, betapa nubuwat tersebut benar-benar telah mewujud nyata.
Seks bebas barangkali sudah menjadi penyakit umat sejak dahulu. Umat-umat sebelum kita juga sudah terkena fitnah ini. Akan tetapi, apa yang kita saksikan hari ini benar-benar membuat bulu kita merinding.
Apa yang kita saksikan melalui layar kaca membuat kita sangat-sangat khawatir jika kejahatan seks bebas itu sangat mungkin menimpa sebagian anggota keluarga kita. Betapa tidak, sebuah hasil penelitian dan survei tentang prilaku seks bebas remaja di negeri ini menyuguhkan angka-angka yang fantantis.
Kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya, Medan dan kota lainnya seakan saling berlomba untuk menyodorkan angka tertinggi perzinahan dan prilaku seks bebas.
Media cetak dan elektronik sedemikian massifnya memberitakan kepada kita tentang apa yang diprediksi oleh Rasulullah Shallahu ’Alaihi Wassallam.
Jika dahulu perbuatan itu hanya dilakukan oleh sekelompok orang tertentu, maka hari ini kita menyaksikan bahwa ia menjadi menu sehari-hari kebanyakan orang. Bukan hanya kaum muda saja yang terjerumus dalam kekejian ini, bahkan yang paling mengerikan adalah perbuatan itu juga dilakukan oleh anak-anak yang belum baligh, termasuk kakek yang tua renta. Skalanya bukan hanya di perkotaan dan hotel berbintang, namun juga merambah di pelosok-pelosok desa dan tempat-tempat umum.

Flyover di Kalibata Jakarta ini menjadi ajang pacaran ABC terang-terangan tiap malam tanpa ada satupun yang peduli mengingatkan [ilustrasi]
 Akankah riwayat di atas telah menjadi kenyataan? Perzinahan dengan segelar nama dan istilah yang dipakai untuknya telah menjadi hal yang lumrah terjadi pada setiap lapisan masyarakat. Akan tetapi, meski demikian tidak seluruh masyarakat (setidaknya secara formal dan simbolik) menyetujui perbuatan tersebut. Banyak kalangan pendidik, akademisi, kiai, santri, dan LSM-LSM yang mengutuk dan menolak praktik-praktik perzinahan massal.
Mereka tetap menganggap perbuatan itu adalah buruk dan harus dijauhi.
Perselingkuhan,  married by accident, kumpul kebo, prostitusi,  wanita panggilan atau apapun macam perzinahan yang terjadi, secara umum tetap dikecam oleh banyak masyarakat dan dianggap sebagai perbuatan yang tercela.
Demo ratusan ormas Islam atas kampanye pekan kondom nasional adalah satu satu bukti. Namun, riwayat di atas tidaklah menunjukkan hal yang demikian.
Bila kita merujuk kepada tanda-tanda kiamat yang banyak disebutkan dalam kitab-kitab ‘Al-Fitan’, kita akan mendapati bahwa zaman itu (yang disebutkan dalam hadits di atas) belum terjadi pada masa sekarang, setidaknya secara umum. Sebab, sebagaimana dijelaskan di atas, hari ini kita masih menjumpai orang-orang yang sehat dan waras yang mengutuk dan melakukan aksi untuk menolak tindakan criminal tersebut.
Akhir Zaman; Ketika Parameter Menilai Kebenaran Telah Berubah
Padahal hadits di atas menjelaskan bahwa ‘manusia terbaik’ saat itu adalah mereka yang hanya bisa mengelus dada dan menyarankan agar para pelaku seks bebas itu melakukannya di dalam ruang tertutup, di balik tembok, atau di ruangan yang tidak terlihat oleh orang banyak. Inilah tindakan manusia terbaik saat itu.Bahkan, ada riwayat lain yang juga menyebutkan bahwa manusia terbaik saat itu adalah mereka yang mengatakan di dalam hatinya bahwa ia juga menginginkan perbuatan itu, namun ia tidak menginginkan jika dilakukan secara terbuka layaknya binatang keledai yang melakukan persenggamaan.
Ia sangat ingin berzina, tapi di ruangan tertutup yang tidak terlihat orang. Kriteria ’orang baik’ seperti ini nampaknya belum terjadi pada umat zaman ini.
Akan terjadi setelah berakhirnya kehidupan umat Islam?
Banyak riwayat menyebutkan bahwa akan muncul angin lembut di akhir zaman yang akan mencabut nyawa setiap orang beriman. Setelah itu yang tersisa hanyalah manusia-manusia kafir, jahat dan ingkar.
Mereka akan hidup layaknya binatang, tidak ada norma dan aturan, tidak ada yang mencegah dan melarang mereka dari mengumbar nafsu dan syahwat. Saat itu seluruh manusia seperti serigala bagi lainnya. Semuanya saling makan, saling terkam, saling melampiaskan syahwatnya layaknya binatang keledai yang melampiaskan syahwatnya.
Di masa itu manusia terbaik yang tersisa adalah sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat di atas. Mereka masih memiliki perasaan dan masih mampu menjaga sebagian fitrahnya. Mereka itulah yang ketika menyaksikan kawan-kawannya berzina di ruang terbuka dan dipamerkan kepada setiap orang; hanya mampu berkata, ”Sekiranya engkau melakukan hal itu di balik tembok ini”.
Bahkan orang itu boleh jadi juga menginginkan perbuatan keji itu, namun ia menginginkannya bukan dengan terang-terangan dan di tempat terbuka. Ia juga menginginkan perbuatan zina itu, tetapi jika dilakukan di ruangan tertutup atau di balik tembok.
Itulah zaman yang menjadi puncak kerusakan manusia, zaman yang sesaat lagi akan berakhir dengan ditiupnya sangkakala oleh Malaikat Israfil.
 Isyarat dekatnya akhir zaman
Terlepas bahwa riwayat di atas belum menjadi kenyataan secara massal, namun tanda-tanda itu kian memperjelas bahwa akhir zaman kian mendekat.
Setiap muslim dan muslimah harus waspada bahwa fitnah ini akan menerkam siapapun. 

Minggu, 03 April 2016

MEMAHAMI KEIMANAN YANG BENAR TERHADAP TAKDIR ALLAH

Memahami Keimanan yang Benar terhadap Takdir Allah

Assalamu'alaikum sobat..

Islam adalah agama yang sempurna. Di dalamnya sudah dijelaskan perihal kehidupan manusia di dunia dan hari akhir. Tak satu pun yang luput dalam aturan Islam.

Islam memiliki 2 (dua) jenis rukun yang umumnya sudah diketahui oleh kebanyakan umat Islam, yaitu Rukun Islam dan Rukun Imam. Rukun Islam terdiri dari 5 perkara, sedangkan Rukun Imam terdiri dari 6 perkara. Salah satu dari Rukun Iman yang terakhir adalah beriman kepada takdir Allah, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk.

Salah memahami keimanan terhadap takdir dapat berakibat fatal, menyebabkan batalnya keimanan seseorang. Terdapat beberapa permasalahan yang harus dipahami oleh setiap muslim terkait masalah takdir ini. Semoga paparan ringkas ini dapat membantu kita untuk memahami keimanan yang benar terhadap takdir Allah. Wallahul musta’an.


Antara Qodho’ dan Qodar
Dalam pembahasan takdir, kita sering mendengar istilah qodho’ dan qodar. Dua istilah yang serupa tapi tak sama. Mempunyai makna yang sama jika disebut salah satunya, namun memiliki makna yang berbeda tatkala disebutkan bersamaan. Jika disebutkan bersamaan, qodho’ maknanya adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah pada makhluk-Nya, baik berupa penciptaan, peniadaan, maupun perubahan terhadap sesuatu. Sedangkan qodar maknanya adalah sesuatu yang telah ditentukan Allah sejak zaman azali. Dengan demikian qodar ada lebih dulu kemudian disusul dengan qodho’.

Empat Prinsip Keimanan kepada Takdir
Pertama: ilmu Allah
Segala sesuatu yang terjadi baik perkara yang kecil maupun yang besar, yang nyata maupun yang tersembunyi, baik itu perbuatan yang dilakukan oleh Allah maupun perbuatan makhluknya. Semuanya terjadi dalam pengilmuan Allah Ta’ala.
(QS. Al Hajj:70 dan QS. Al An’am:59)

Kedua:  tertulis
Allah Ta’ala telah menulis dalam lauhul mahfudz catatan takdir segala sesuatu sampai hari kiamat. Tidak ada sesuatupun yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kecuali telah tercatat. Dalil dari As Sunnah, di antaranya adalah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:
… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi” HR. Muslim 2653

Ketiga: kehendak Allah
Kehendak Allah meliputi segala sesuatu, baik yang terjadi maupun yang tidak terjadi, baik perkara besar maupun kecil, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang terjadi di langit maupun di bumi. Semuanya terjadi atas kehendak Allah Ta’ala, baik itu perbuatan Allah sendiri maupun perbuatan makhluknya.

Keempat: penciptaan Allah
Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu baik yang besar maupun kecil, yang nyata dan tersembunyi. Ciptaan Allah mencakup segala sesuatu dari bagian makhluk beserta sifat-sifatnya. Perkataan dan perbuatan makhluk pun termasuk ciptaan Allah.
Dalil kedua prinsip di atas adalah firman Allah Ta’ala,

“.Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.”(QS. Az Zumar 62-63)
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu“.” (QS. As Shafat:96)

Antara Kehendak Makhluk dan Kehendak-Nya
Beriman dengan benar terhadap takdir bukan berarti meniadakan kehendak dan kemampuan manusia untuk berbuat. Hal ini karena dalil syariat dan realita yang ada menunjukkan bahwa manusia masih memiliki kehendak untuk melakukan sesuatu.
Dalil dari syariat, Allah Ta’ala telah berfirman tentang kehendak makhluk,

“Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.” (QS. An Nabaa’:39)

“Isteri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. …”(Al Baqoroh:223)

Adapun tentang kemampuan makhluk Allah menjelaskan,
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu . Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghobun :16)
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya….”(QS. Al Baqoroh:286)

Sedangkan realita yang ada menunjukkan bahwa setiap manusia mengetahui bahwa dirinya memiliki kehendak dan kemampuan. Dengan kehendak dan kemampuannya, dia melakukan atau meninggalkan sesuatu. Ia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya (seperti berjalan), dengan sesuatu yang terjadi tanpa kehendaknya, (seperti gemetar atau bernapas). Namun, kehendak maupun kemampuan makhluk itu terjadi dengan kehendak dan kemampuan Allah Ta’la karena Allah berfirman,
“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Takwiir:28-29).

Dan karena semuanya adalah milik Allah maka tidak ada satu pun dari milik-Nya itu yang tidak diketahui dan tidak dikehendaki oleh-Nya.

Macam-Macam Takdir
[1] Takdir Azali. Yakni ketetapan Allah sebelum penciptaan langit dan bumi ketika Allah Ta’ala menciptakan qolam (pena). Allah berfirman,
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami...” (QS. At Taubah:51)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallaam bersabda, “… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi” HR. Muslim

[2] Takdir Kitaabah. Yakni pencatatan perjanjian ketika manusia ditanya oleh Allah:”Bukankah Aku Tuhan kalian?”. (QS. Al A’raaf 172-173).

[3] Takdir ‘Umri. Yakni ketetapan Allah ketika penciptaan nutfah di dalam rahim, telah ditentukan jenis kelaminnya, ajal, amal, susah senangnya, dan rizkinya. Semuanya telah ditetapkan, tidak akan bertambah dan tidak berkurang. (QS. Al Hajj:5)

[5] Takdir Hauli. Yakni takdir yang Allah tetapkan pada malam lailatul qadar, Allah menetapkan segala sesuatu yang terjadi dalam satu tahun. (QS. Ad Dukhaan:1-5)

[5] Takdir Yaumi. Yakni  penentuan terjadinya takdir pada waktu yang telah ditakdirkan sbelumnya. (QS. Ar Rahmaan: 29). 

Sikap Pertengahan Dalam Memahami Takdir
Diantara prinsip ahlus sunnah adalah bersikap pertengahan dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah, tidak sebagaimana sikap ahlul bid’ah. Ahlus sunnah beriman bahwa Allah telah menetapkan seluruh taqdir sejak azali, dan Allah mengetahui takdir yang akan terjadi pada waktunya dan bagaimana bentuk takdir tersebut, semuanya terjadi sesuai dengan takdir yang telah Allah tetapkan.

Adapun orang-orang yang menyelisihi Al Quran dan As Sunnah, mereka bersikap berlebih-lebihan. Yang satu terlalu meremehkan dan yang lain melampaui batas. Kelompok Qodariyyah, mereka mengingkari adanya takdir. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menakdirkan perbuatan hamba. Menurut mereka perbuatan hamba bukan makhluk Allah, namun hamba sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Mereka mengingkari penciptaan Allah terhadap amal hamba.

Kelompok yang lain adalah yang  terlalu melampaui batas dalam menetapkan takdir. Mereka dikenal dengan kelompok Jabariyyah. Mereka berlebihan dalam menetapkan takdir dan menafikan adanya kehendak hamba dalam perbuatannya. Mereka mengingkari adanya perbuatan hamba dan menisbatkan semua perbuatan hamba kepada Allah. Jadi seolah-olah hamba dipaksa dalam perbuatannya.

Kedua kelompok di atas telah salah dalam memahai takdir sebagaimana ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla,
“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”(QS. At Takwiir:28-29)

Pada ayat (yang artinya), “ (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang menempuh jalan yang lurus” merupakan bantahan untuk Jabariyyah karena pada ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak bagi hamba. Hal ini bertentangan dengan keyakinan mereka yang mengatakan bahwa hamba dipaksa tanpa memiliki kehendak. Kemudian Allah berfirman (yang artinya), “Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki oleh Allah, Tuhan semesta alam.” Dalam ayat ini terdapat bantahan untuk Qodariyah yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri sendiri dan diciptakan oleh hamba tanpa sesuai dengan  kehendak Allah karena Allah mengaitkan kehendak hamba dengan kehendak-Nya.

Takdir Baik dan Takdir Buruk
Takdir terkadang disifati dengan takdir baik dan takdir buruk. Takdir yang baik sudah jelas maksudnya. Lalu apa yang dimaksud dengan takdir yang buruk? Apakah berarti Allah berbuat sesuatu yang buruk? Dalam hal ini kita perlu memahami antara takdir yang merupakan perbuatan Allah dan dampak/hasil dari perbuatan tersebut. Jika takdir disifati buruk, maka yang dimaksud adalah buruknnya sesuatu yang ditakdirkan tersebut, bukan takdir yang merupakan perbuatan Allah, karena tidak ada satu pun perbuatan Allah yang buruk. Seluruh perbuatan Allah mengandung kebaikan dan hikmah. Jadi keburukan yang dimaksud ditinjau dari sesuatu yang ditakdirkan/hasil perbuatan, bukan ditinjau dari perbuatan Allah. Untuk lebih jelasnya bisa kita contohkan sebagai berikut.

Seseorang yang terkena kanker tulang ganas pada kaki misalnya, terkadang membutuhkan tindakan amputasi (pemotongan bagian tubuh) untuk mencegah penyebaran kanker tersebut. Kita sepakat bahwa terpotongnya kaki adalah sesuatu yang buruk. Namun pada kasus ini, tindakan melakukan amputasi (pemotongan kaki) adalah perbuatan yang baik. Walaupun hasil perbuatannya buruk (yakni terpotongnya kaki), namun tindakan amputasi adalah perbuatan yang baik. Demikian pula dalam kita memahami takdir yang Allah tetapkan. Semua perbuatan Allah adalah baik, walaupun terkadang hasilnya adalah sesuatu yang tidak baik bagi hambanya.

Namun yang perlu diperhatikan, bahwa hasil takdir yang buruk terkadang di satu sisi buruk, akan tetapi mengandung kebaikan di sisi yang lain. Allah Ta’ala berfirman :
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar Ruum:41).

Kerusakan yang terjadi pada akhirnya menimbulkan kebaikan. Oleh karena itu, keburukan yang terjadi dalam takdir bukanlah keburukan yang hakiki, karena terkadang akan menimbulkan hasil akhir berupa kebaikan.

Bersemangatlah, Jangan Hanya Bersandar Pada Takdir
Sebagian orang memiliki anggapan yang salah dalam memahami takdir. Mereka hanya pasrah terhadap takdir tanpa melakukan usaha sama sekali. Sunngguh, ini adalah kesalahan yang nyata.  Bukankah Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita dari bersikap malas? Apabila kita sudah mengambil sebab dan mendapatkan hasil yang tidak kita inginkan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa karena semuanya sudah merupakan ketetapan Allah.  Oleh karena itu, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” HR. Muslim 2664

Faedah Penting
Keimanan yang benar terhadap takdir akan membuahkan hal-hal penting, di antaranya sebagai berikut :
Pertama:
Hanya bersandar kepada Allah ketika melakukan berbagai sebab, dan tidak bersandar kepada sebab itu sendiri. Karena segala sesuatu tergantung pada takdir Allah.

Kedua:
Seseorang tidak sombong terhadap dirinya sendiri ketika tercapai tujuannya, karena keberhasilan yang ia dapatkan merupakan nikmat dari Allah, berupa sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan yang memang telah ditakdirkan oleh Allah. Kekaguman terhadap dirinya sendiri akan melupakan dirinya untuk mensyukuri nikmat tersebut.

Ketiga:
Munculnya ketenangan dalam hati terhadap takdir Allah yang menimpa  dirinya, sehingga dia tidak bersedih atas hilangnya sesuatu yang dicintainya atau ketika mendapatkan sesuatu yang dibencinya. Sebab semuanya itu terjadi dengan ketentuan Allah. Allah berfirman,
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al Hadiid:22-23).

Demikian paparan ringkas seputar keimanan terhadap takdir. Semoga bermanfaat. Alhamdulillahiladzi bi ni’matihi tatimmush shaalihat.

Minggu, 06 Maret 2016

KEBAHAGIAAN DUNIA DAN AKHIRAT

Kebahagiaan dan kesuksesan adalah dambaan setiap orang, baik muslim maupun non muslim, pria maupun wanita. Hal ini terlihat pada berbagai aktivitas manusia di dunia. Jika mereka ditanya tentang tujuan aktivitas mereka, akan muncul jawaban yang bermacam-macam, tetapi berkisar pada satu titik: mencapai kebahagiaan, ketenangan, dan kemakmuran. Namun, ada perbedaan antara orang yang beriman kepada Allah l dan hari akhir, dengan orang yang hanya berorientasi pada kehidupan dunia.
Muslim sejati akan berusaha menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus. Bahkan, kebahagiaan akhirat lebih dia utamakan daripada kebahagiaan duniawi. Allah k sebagai pencipta dan pengatur alam semesta telah menurunkan al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Dia pun mengutus Nabi yang agung—penutup para nabi dan rasul, yaitu Muhammad n—sebagai panutan kita dalam hal meraih cita-cita di dunia dan akhirat.

Kaum wanita, yang menjadi bagian terbesar umat ini, tentu saja mendapat perhatian besar dalam Islam agar mereka meraih kebahagiaan dan kesuksesan.
Surat al-’Ashr
Allah l berfirman,

“Demi waktu. Sungguh, seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebaikan, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (al-’Ashr: 1—3)

Para sahabat  menaruh perhatian besar terhadap surat ini. Sampai-sampai, jika dua orang dari mereka bertemu, keduanya tidak akan berpisah sebelum salah seorang membacakan surat ini kepada temannya. Barulah keduanya mengucapkan salam sebelum berpisah setelah itu.
Al-Imam asy-Syafi’i t mengomentari surat ini, “Jika manusia merenungi kandungan surat ini, tentu surat ini akan mencukupi mereka.” Maksud beliau, surat ini cukup sebagai pendorong bagi seseorang agar menempuh jalan yang benar dalam meniti kehidupan ini.
Surat yang terdiri atas tiga ayat ini telah menunjuki kita jalan yang gamblang agar kita terhindar dari kerugian dan kebangkrutan, dengan kata lain agar kita meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Allah sang Pencipta dan Pengatur alam semesta, mengingatkan bahwa semua orang pasti akan merugi, kecuali orang yang memiliki empat sifat: 

1. Iman, 2. Amal saleh, 3. Dakwah di jalan Allah, dan 4. Sabar. 
 Orang berakal yang mendapat peringatan dari Dzat yang mengasihinya dan Dzat yang paling mengetahui kebaikan bagi dirinya tentu akan berusaha melepaskan diri dari kerugian. Tentu, caranya adalah menghiasi diri dengan keempat sifat tersebut.

1. Iman
Secara ringkas, iman adalah keyakinan yang kokoh di dalam kalbu, yang diiringi dengan ucapan dan perbuatan anggota badan. Iman seseorang bisa bertambah ketika dia berbuat taat, dan berkurang ketika berbuat maksiat. Iman dibangun di atas enam hal yang lazim disebut sebagai rukun iman, yaitu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir, serta beriman kepada takdir Allah.

Iman yang benar akan membuahkan hidup yang lurus dan penuh ketenangan. Orang yang mengimani bahwa Allah adalah al-’Alim, as-Sami’, dan al-Bashir (Maha Mengetahui, Maha Mendengar, dan Maha Melihat) akan terarah hidupnya. Dia tidak akan sembarangan berbuat maksiat walaupun tidak ada manusia yang tahu. Sebab, ada Dzat yang Maha Tahu. Jangankan perbuatan maksiat, keinginan berbuat maksiat yang baru terlintas di benaknya saja Allah pasti mengetahuinya. Ketika menyadari hal ini, seorang mukmin urung bermaksiat kepada Allah. Apalagi kalau iman sudah membuatnya mencintai Allah, tidak mungkin dia mau melakukan perbuatan yang dibenci oleh Dzat yang dia cintai. Di sisi lain, keimanan kepada ketiga nama di atas akan menimbulkan ketenangan hidup.

Ketika Allah berjanji dalam banyak ayat-Nya bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh, seorang mukmin akan selalu merasa terjaga dan terbimbing oleh-Nya. Bagaimana pula jika hal itu ditambah dengan iman kepada sekian banyak asmaul husna yang semuanya mengandung makna-makna yang sangat menakjubkan dan luar biasa? Terlebih lagi jika keimanan ini dirangkai dengan iman yang benar tentang takdir Allah. Tentu, tidak akan tersisa dalam hidupnya kesedihan yang berlarut-larut akibat berbagai musibah dan kesulitan hidup yang dialami. Beban ekonomi, bisnis, masalah jodoh dan rumah tangga, serta sekian banyak masalah duniawi lainnya akan tampak ringan jika dilihat dari kaca mata takdir Allah dan hikmah-Nya.

Jika orang yang mengaku beriman masih merasa ragu terhadap apa yang dia imani, berarti imannya masih jauh dari sempurna. Untuk menepis keraguan dan menimbulkan keyakinan yang mantap, diperlukan ilmu yang benar terhadap apa yang diimani. Kenyataan menunjukkan, ketika iman seseorang lemah dan tidak dilandasi oleh ilmu, dia akan mudah terpengaruh oleh ajakan-ajakan yang menyimpang, baik berupa hawa nafsu (syahwat) maupun kerancuan berpikir (syubhat). Terlebih kaum wanita, yang disifati oleh Rasulullah  sebagai makhluk yang kurang akal dan kurang agama. Mereka harus lebih berhati-hati menjaga iman. Mereka harus membekali diri dengan ilmu agama yang cukup. Hadits shahih yang memberitakan bahwa kebanyakan pengikut Dajjal—si Pembohong Besar yang akan keluar pada akhir zaman—adalah kaum wanita, menjadi salah satu bukti akan hal ini.

Islam telah memberikan perhatian besar terhadap ilmu dan keutamaan mencari ilmu, termasuk perhatian kepada kaum wanita secara khusus. Diberitakan dalam hadits bahwa sebagian wanita sahabat meminta kepada Nabi agar menyediakan satu hari khusus untuk mengajari mereka. Beliau pun menyanggupi permintaan tersebut. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Selain itu, dalam berbagai kesempatan khotbah, beliau memberikan porsi khusus nasihat bagi kaum wanita. Salah satunya adalah peristiwa Haji Wada’ (Haji Perpisahan). Ketika itu, berkumpul lebih dari seratus ribu kaum muslimin. Sebuah perkumpulan terbesar umat manusia pada zaman itu. Beliau menyampaikan pesan-pesan agung yang terkait dengan kaum wanita.
Ilmu apakah yang perlu dipelajari oleh seorang muslim, terkhusus kaum wanita (muslimah)?
Jawabnya, ilmu yang dibutuhkan untuk beramal dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu yang terkait dengan akidah atau keyakinan harus diprioritaskan dan dipelajari dengan baik. Sebab, penyebaran akidah yang murni adalah inti dakwah para nabi dan rasul. Selain itu, perwujudan makna dua kalimat syahadat adalah kunci masuk surga kelak pada hari kiamat.

Prioritas berikutnya adalah mempelajari ibadah-ibadah yang wajib dikerjakan, terutama shalat. Seseorang harus mempelajari syarat, rukun, dan kewajiban shalat, dsb., termasuk hal-hal yang berkaitan erat dengan sahnya shalat, seperti masalah bersuci, hukum-hukum seputar haid, nifas, dan sebagainya. Adapun ibadah yang belum akan dilakukan, dia belum wajib mempelajarinya. Misalnya, orang yang belum mampu berhaji belum wajib mempelajari manasik haji. Contoh lain adalah masalah kerumahtanggaan. Orang yang belum ingin berkeluarga belum wajib mempelajari tuntunan seputar rumah tangga. Demikianlah, setiap ibadah yang hendak dilakukan harus dilandasi oleh ilmu yang benar.

2. Amal Saleh
Amal saleh menjadi bukti bahwa ilmu yang dimiliki seseorang adalah ilmu yang bermanfaat. Iman yang tertancap di dalam kalbu diwujudkan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Ilmu, pengetahuan, dan hafalan yang dimiliki tidak sekadar dibangga-banggakan. Jika hal inilah yang terjadi, dia masuk dalam ancaman Allah dalam firman-Nya,

“Saling berlomba menjadi yang paling banyak telah melalaikan kalian.” (at-Takatsur: 1)
Ibnul Qayyim t mengingatkan bahwa saling berbangga dan menyombongkan ilmu yang dimiliki lebih jelek daripada saling berbangga dengan harta dan kedudukan. Sebab, ilmu yang seharusnya dia peruntukkan untuk menggapai ridha Allah justru dia pakai untuk kepentingan dunia.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam al-Qur’an sering sekali disebutkan iman dan amal saleh secara bersamaan karena keduanya memang berkaitan sangat erat.
Suatu amal dikatakan saleh jika terkumpul padanya dua syarat: ikhlas mengharap wajah Allah dan sesuai dengan tuntunan Nabi. Inilah intisari dari dua kalimat syahadat. Jika salah satu dari kedua syarat ini hilang, suatu amal tidak akan disebut amal saleh walaupun jumlahnya banyak.

3. Dakwah di jalan Allah.
Secara kebahasaan kata dakwah berasal dari bahasa Arab, yang akar katanya adalah da’â – yad’û – da’watan yang berarti menyeru, memanggil, mengajak dan menjamu.

Dakwah dalam pengertian bahasa ini menimbulkan makna ganda yang dapat diartikan menyeru kepada sesuatu yang bersifat negatif juga dapat berarti mengajak kepada sesuatu yang bersifat positif.

Ajakan yang mengarah kepada yang negatif sudah pasti subyeknya adalah syaitan dan orang-orang yang mengikuti sepak terjangnya.

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh (mu) karena sesungguhnya syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS. faathir (35) : 6)

“Yusuf berkata : Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka kepadaku dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh”. (QS. Yusuf (12) : 33)

Adapun panggilan yang bersifat positif, subyeknya adalah Allah swt., para Nabi dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman.

“… sedang Allah mengajak ke Surga dan ampunan dengan seizin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (QS. al-Baqarah (2): 221)

“Dan Allah menyeru (manusia) ke darus salam (surga) . . .” (QS. Yunus (10): 25)

Dakwah menurut pengertian terminologi dikemukakan oleh para ahli antara mengatakan bahwa dakwah adalah mendorong manusia agar berbuat kebajikan dan petunjuk, menyeru mereka berbuat yang ma`ruf dan mencegah mereka terhadap perbuatan munkar, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Sebahagian mengatakan bahwa Dakwah Islam adalah mengajak umat manusia dengan hikmah dan kebijaksanaan untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.

Selanjutnya ada juga membagi pengertian dakwah dari dua sudut tinjauan. Pertama Pengertian Dakwah secara umum, yakni suatu ilmu pengetahuan yang berisi cara-cara dan tuntunan-tuntunan, bagaimana seharusnya menarik perhatian manusia untuk menganut, menyetujui, melaksanakan suatu ideologi, pendapat, pekerjaan yang tertentu. Kedua pengertian Dakwah menurut Islam, ialah mengajak manusia dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Jadi makna dakwah secara kebahasaan adalah selain ajakan kepada sesuatu yang baik juga berarti ajakan kepada sesuatu yang buruk. Apabila ditinjau dari segi terminologi maka dakwah mengandung arti seluruh aktivitas manusia yang dilaksanakan secara sadar dan terencana yang bertujuan merubah pola pikir dan tingkah laku manusia secara dinamis ke arah yang lebih baik, sehingga terwujud kebahagiaan dan kedamaian manusia baik di dunia maupun di akhirat.

Tujuan dakwah

Tujuan dakwah adalah menjadikan manusia muslim mampu mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan bermasyarakat dan menyebarluaskan kepada masyarakat yang mula-mula apatis terhadap Islam menjadi orang yang suka rela menerimanya sebagai petunjuk aktivitas duniawi dan ukhrawi.

Kebahagiaan ukhrawi merupakan tujuan final setiap muslim. Untuk mencapai maksud tersebut diperlukan usaha yang sungguh-sungguh dan
penuh optimis melaksanakan dakwah.

Oleh karena itu seorang da`i harus memahami tujuan dakwah, sehingga segala kegiatannya benar-benar mengarah kepada tujuan seperti dikemukakan di atas. Seorang da`i harus yakin akan keberhasilannya, jika ia tidak yakin dapat menyebabkan terjadinya penyelewengan-penyelewengan di bidang dakwah.

Sejarah perjuangan umat Islam dalam menegakkan panji-panji Islam pada dasarnya seluruh golongan dalam Islam sepakat memperjuangkan dan merealisasikan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan umat manusia. tetapi kenyataan menunjukkan hal yang berlawanan. Berubah kepada pencapaian kekuasaan golongannya sendiri sehingga menimbulkan persaingan dan pertentangan di antara golongan itu sendiri. Dalam masalah bisnis terlihat adanya transaksi yang sering menguntungkan di satu pihak sementara pada pihak lain dirugikan. Inilah akibat yang ditimbulkan oleh orang yang tidak memahami hakikat perjuangan suci.

Disinilah letaknya mengapa tujuan dakwah itu perlu diperjelas agar menjadi keyakinan yang kokoh untuk menghindari terjadinya salah arah. Tujuan dakwah hakikatnya sama dengan diutusnya nabi Muhammad saw. membawa ajaran Islam dengan tugas menyebarluaskan dinul haq itu kepada seluruh umat manusia sesuai dengan kehendak Allah swt.

Berikut akan diuraikan tentang tujuan dakwah :

  • Mengajak umat manusia (meliputi orang mukmin maupun orang kafir atau musyrik) kepada jalan yang benar agar dapat hidup sejahtera di dunia maupun di akhirat.
  • Mengajak umat Islam untuk selalu meningkatkan taqwanya kepada Allah swt.
  • Mendidik dan mengajar anak-anak agar tidak menyimpang dari fitrahnya.
  • Menyelesaikan dan memecahkan persoalan-persoalan yang gawat yang meminta segera penyelesaian dan pemecahan.
  • Menyelesaikan dan memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi sewaktu-waktu dalam masyarakat.
Jadi inti dari tujuan yang ingin dicapai dalam proses pelaksanaan dakwah adalah keridhaan Allah swt. dimana obyek dakwah tidak hanya terbatas kepada umat Islam saja, tetapi semua manusia bahkan untuk semua alam. Dari sudut manapun dakwah itu diarahkan, maka intinya adalah amar ma`ruf nahyi munkar yang bertujuan untuk merubah dari sesuatu yang negatif kepada yang positif, dari yang statis kepada kedinamisan sebagai upaya merealisasikan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Pengertian Islam: Etimologis

Secara etimologis (asal-usul kata, lughawi) kata “Islam” berasal dari bahasa Arab: salima yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Sebagaimana firman Allah SWT:

“Bahkan, barangsiapa aslama (menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula bersedih hati” (Q.S. 2:112).

Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim. Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh pada ajaran-Nya[1].

Hal senada dikemukakan Hammudah Abdalati[2]. Menurutnya, kata “Islam” berasal dari akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim) yang berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, danketundukkan


4. Sabar
Sabar secara bahasa berarti menahan. Menahan jiwa dari kegoncangan dan marah, menahan lidah dari mengeluh dan menahan tubuh dari merobek atau memukul-mukul (tanda tidak sabar). Sabar ada tiga macam yaitu : Sabar dalam menjalankan ketaatan pada Allah Ta’ala, sabar dalam menjauhi maksiat padaNya, dan sabar atas ujian dariNya. Dua hal yang pertama membutuhkan usaha dari hamba untuk menetapinya.
Berkata Syaikhul islam Ibnu Taimiyah ” Kesabaran nabi Yusuf semoga Allah memberi keselamatan padanya, menolak ajakan istri raja Mesir lebih sempurna daripada keadaan ketika dia dibuang di sumur, dijual dan dipisahkan dari bapaknya. Karena hal itu menimpanya dan hamba tidak bisa menghindarinya dan tiada jalan keluar kecuali harus sabar.

Adapun sabar dalam menjauhi maksiat butuh sikap dan ketegasan dari kita, menahan jiwa. Apalagi adanya sebab-sebab yang sangat menunjang hal itu. Dia adalah seorang pemuda perjaka, dan kecenderungan kepadanya sangat kuat. Tidak ada yang menghalaginya dan menolak syahwatnya. Dia adalah pendatang, yang tidak ada beban metal pada tempat tinggalnya, teman, saudara ataupun keluarganya. Budak dan tidak akan dihukumi sebagaimana orang yang merdeka. Wanitanya sangat cantik, punya kedudukan, dan dia adalah tuannya. Tidak ada manusia yang mengawasinya bahkan wanita yang mengajaknya. Memaksanya dan mengancamnya jika tidak memenuhi ajakannya. Akan dipenjarakan dan dihinakan. Karena faktor itu semua, sabar merupakan ikhtiyar dan itsar(mengutamakan) pada sesuatu yang disisi Allah Ta’ala. Dan ini tidak ada pada kasus yang pertama tadi.”

Katanya lagi ” Sabar dalam menjalani ketaatan lebih sempurna dan utama dari sabar menjauhi maksiat. Karena maslahat menjalankan ketaatan lebih dicintai pemberi syariat dari maslahat meninggalkan maksiat. Kerusakan (mafsadat) tiadanya ketaatan lebih dibenci dan dimurkai dari mafsadah adanya kemaksiatan.”
Contoh ibadah yang paling utama yang erat kaitannya dengan sabar adalah puasa. Karena didalamnya mengandung 3 kesabaran. Yaitu sabar atas ketaatan pada Allah Azza wa Jalla, dan menahan dari maksiat kepadanya karena dia meninggalkan syahwatnya karena Allah Ta’ala. Padahal jiwanya ingin selalu menyelisihinya. Oleh karena itu pahala puasa adalah akan ditentukan oleh Allah Ta’ala secara langsung. Yang ketiga, dia harus menahan rasa sakit berupa lapar dan dahaga yang menimpanya. Dan rasul memberi nama bulan puasa dengan bulan kesabaran.

Sebagai penutup, mari kita renungkan satu-satunya doa yang wajib dibaca oleh setiap muslim dalam setiap rakaat shalat. Allah, Dzat yang paling tahu kebaikan bagi para hamba-Nya, mewajibkan doa ini untuk dibaca pada setiap rakaat karena setiap hamba sangat membutuhkannya. Doa ini berkaitan erat dengan kebahagiaan dunia dan akhirat seseorang. Ya, doa ini telah kita hafal bersama. Doa ini adalah tiga ayat terakhir dalam surat al-Fatihah. Dengannya, kita meminta agar diberi hidayah dalam meniti ash-shirathal mustaqim, baik jalan lurus di dunia maupun shirath yang terbentang di atas Jahannam yang kelak kita semua akan menitinya.

Hidayah meniti ash-shirathal mustaqim ialah dengan kita mengikuti jalan orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan dengan menjauhi dua golongan: al-maghdhubi ‘alaihim dan adh-dhallin. Disebutkan dalam hadits shahih bahwa al-maghdhubi ‘alaihim adalah kaum Yahudi dan siapa pun yang sejalan dengan mereka, yaitu orang yang memiliki ilmu tetapi tidak mengamalkannya. Adh-dhallin adalah kaum Nasrani dan siapa saja yang sejalan dengan mereka, yaitu orang yang memiliki semangat beramal tanpa dilandasi oleh ilmu.Adapun golongan yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh, adalah yang mengumpulkan dua sebab kebahagiaan dunia dan akhirat, yaitu iman dan amal saleh. 3. berdakwah di jalan Allah, serta mempunyai Kesabaran yang tiada batasnya. Aamiim................................ Allahu a’lam.






Minggu, 24 Januari 2016

Suami-ku "CINTAI AKU KARENA ALLAH"

 DALAM Islam, menikah sama dengan menyempurnakan separuh agama. Berbagai kenikmatan di surga sepertinya belum cukup bagi Adam ‘alaihis-salaam. Itulah sebabnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan ibu kita, Hawa, untuk mendampinginya.

 Istri, di samping sebagai sandaran emosional, juga sebagai penyangga spiritual. Dialah yang siap berbagi tanpa pura-pura dan pamrih. Karunia istri, menurut Al-Qur`an, sama berharganya dengan kejadian dunia dan seisinya (Ar-Ruum: 16-30). Subhanallah!

Potensi besar yang dikaruniakan Allah kepada perempuan adalah kelembutan, kesetiaan, cinta, kasih sayang, dan ketenangan jiwa. Kekuatan itu seringkali dilukiskan bagaikan ring dermaga tempat suami menambat kapal, atau pohon rindang tempat sang musafir merebahkan diri dan berteduh.

Sebaik-baik wanita (istri), kata Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah apabila kamu melihatnya menyenangkanmu. Istri yang seperti inilah yang bisa menjadi sumber kebahagiaan, keamanan, dan penjaga kehormatan diri. Bila sumber itu hilang atau kering, tragedi cintalah yang akan terjadi.
Jangan Sampai Membelenggu
Hanya saja, kecintaan kepada istri harus rasional dan proporsional. Tak sekadar menonjolkan rasa, tetapi juga rasio. Cinta terhadap istri hendaknya diletakkan demi kepentingan agama.

 Agamalah yang bisa memberikan keterampilan kepada pemeluknya untuk mengelola fluktuasi (naik turun) kehidupan dengan semangat yang sama. Sedih dan gembira, suka dan duka, gagal dan sukses, adalah peta realitas kehidupan dunia.

Cintailah istrimu di bawah cinta kepada Allah! Jangan sampai kecintaan kepada keluarga menjadi ketergantungan yang membelenggu dan melumpuhkan. Saling mengasihi yang tidak dilandasi agama, suatu ketika bakal menjadi batu sandungan dakwah.
الْأَخِلَّاء يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِي
“Para kekasih pada hari itu (kiamat) sebagian mereka terhadap sebagian yang lain menjadi musuh kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Az-Zuhruf: 67)

Hadist lain menjelaskan :

.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ - متفق عليه
Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak beriman salah seorang diantara kalian, hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya" (Muttafaqun Alaih)

Terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik dari hadits di atas, diantara hikmah-hikmahnya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa sebagai seorang muslim, kita diharuskan untuk lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya, dibandingkan dengan apapun yang ada di dunia ini. Hadits di atas bahkan menggambarkan bahwa kita harus lebih mencintai Allah dan Rasulullah SAW dibandingkan dengan cinta kita terhadap orangtua dan anak kandung kita sendiri atau Istri. Karena pada hakekatnya, kita semua adalah hamba Allah SWT yang memiliki “tugas” untuk menyembah dan mentauhidkan-Nya. Adapun orang tua, istri, anak, maupun kerabat keluarga mereka semua adalah titipan dan amanah dari Allah SWT agar kita menjaga dan memilhara mereka dari (bahaya) api neraka, sebagaimana yang Allah SWT firmankan dalam QS. At-Tahrim : 6: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

2. Namun bukan berarti bahwa kita tidak boleh mencintai orangtua, anak, istri maupun kerabat keluarga, namun yang dimaksud adalah bahwa cinta kita kepada mereka haruslah dibawah cinta kita kepada Allah SWT. Kecintaan seorang hamba terhadap sesama hamba lah yang tidak boleh melebihi daripada cintanya kepada Sang Khalik yang telah menciptakan-Nya. Bahkan terhadap diri sendiripun demikian, harus dibawah cinta kepada Allah SWT. Diriwayatkan dari Abdullah bin Hisyam ra, beliau menuturkan; kami pernah bersama Nabi SAW yang saat itu beliau menggandeng tangan Umar bin Khattab, kemudian Umar berujar: "ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala-galanya selain diriku sendiri." Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak, demi Dzat yang jiwa berada di Tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri." Maka Umar berujar; 'Sekarang demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku'. Maka Nabi SAW bersabda, "Sekarang (baru benar) wahai Umar." (HR. Bukhari)

3. Cinta terhadap pasangan hidup baik istri maupun suami pun harus demikian adanya. Kita harus meletakkan cinta kita kepada suami atau istri kita, dibawah cinta kita kepada Allah SWT. 


Cinta adalah bagian dari keimanan kepada Allah SWT, yang akan memiliki konsekwensi dan dampak yang signifikan di masa yang akan datang. Oleh karenanya setiap muslim perlu berhati-hati dan selektif dalam memilih teman, sahabat, atau partner yang akan dicintainya. Dalam sebuah riwayat bahkan digambarkan mengenai seseorang kelak akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya :
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ، قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ (رواه البخاري)
Dari Anas ra bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW tentang hari kiamat, "Kapankah terjadinya hari kiamat?". Beliau balik bertanya kepada orang itu; "Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya?". Orang tersebut menjawab; "Tidak ada, kecuali hanya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya". Maka beliau bersabda: "Kamu kelak akan bersama orang yang kamu cintai". Anas berkata; "Kami belum pernah bergembira atas sesuatu seperti gembiranya kami dengan sabda Nabi SAW ini, yaitu: "Kamu akan bersama orang yang kamu cintai". Selanjutnya Anas berkata; "Maka aku mencintai Rasulullah SAW, Abu Bakr, 'Umar dan aku berharap dapat berkumpul bersama mereka disebabkan kecintaanku kepada mereka sekalipun aku tidak memiliki amal seperti amal mereka". (HR. Bukhari)

Saling memiliki sebagai penghias hati bukanlah semudah yang di sangka,
Engkau telah menjadi Imam untuk-ku di kala di tengah celahan KACA yang berserakan. Duhai suami-ku bantulah aku menemukan arti Cinta yang hakiki kepada Allah SWT dalam tiap Sujud-sujudku.
Suami-ku...Aku tahu
Kesempurnaan bukanlah yang utama, karena setiap orang punya kekurangan dan kelebihan.
Kita telah saling melengkapi satu sama lain dalam bahtera rumah tangga.
Hidup bersama-mu bukanlah karena materi, yang kucari adalah ketenangan diri, jiwa dan hati..
Dan jadikanlah aku makmum yang baik bagimu juga baik karena Allah Swt, agar aku bisa terus melangkah di jalan yang Allah Ridhai, untuk menuju Syurga Ars bersama-mu nanti.
Ingatkanlah dan tegurlah aku bila ku salah melangkah.
Aamiin.

PENTINGNYA ISTIQAMAH DALAM KEHIDUPAN SEHARI - HARI

Istiqamah berasal dari kata istiqaama-yastaqiimu, yang berarti tegak lurus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Dalam terminologi akhlak, istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman, sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Seseorang yang istiqamah laksana batu karang di tengah-tengah lautan yang tidak bergeser sedikit pun walau dipukul oleh gelombang yang bergulung-gulung.

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat yang bernama Sufyan ibn ‘Abdillah meminta kepada Rasulullah SAW supaya mengajarkan kepadanya intisari ajaran Islam dalam sebuah kalimat yang singkat, padat dan menyeluruh. Dengan demikian, dia tidak perlu lagi menanyakan hal tersebut kepada siapa pun pada masa yang akan datang. Memenuhi permintaan sahabat tersebut, Rasulullah SAW bersabda: “katakanlah: saya beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah!” [HR. Muslim].
Iman yang sempurna adalah iman yang mencakup tiga dimensi, yaitu hati, lisan dan amal perbuatan. Seorang yang beriman haruslah istiqamah dalam ketiga dimensi tersebut. Dia akan selalu menjaga kesucian hatinya, kebenaran perkataannya, dan kesesuaian perbuatannya dengan ajaran Islam. Ibarat berjalan, seorang yang istiqamah akan selalu mengikuti jalan yang lurus, jalan yang paling cepat mengantarkannya ke tujuan.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan ad-Darami dari Ibn Mas’ud r.a., diterangkan bahwa Rasulullah SAW pada suatu hari membuat satu garis lurus di hadapan beberapa sahabat. Kemudian Beliau membuat pula garis melintang-lintang di kanan-kiri garis lurus tersebut. Sambil menunjuk garis lurus, Beliau berkata: “inilah jalan Allah”. Kemudian Beliau menunjuk pada garis-garis yang banyak yang ada di kiri-kanan garis lurus itu, dan berkata: “inilah jalan-jalan bersimpang, pada setiap jalan itu ada setan yang selalu menggoda.” Setelah itu, Beliau membacakan ayat al-Qur’an yang berbunyi:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Sesungguhnya inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa” [Q.s. al-An’aam (6): 153].

Jalan lurus yang dimaksud oleh ayat di atas adalah agama Allah, Islam. Al-Qur’an menyebut agama Allah dengan agama yang lurus. Hal ini sebagaimana disebut dalam Q.s. al-Bayyinah ayat 5 berikut:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus [Q.s. al-Bayyinah (98): 5].
  
Ujian Keimanan
Sikap istiqamah sangatlah diperlukan orang yang beriman. Hal ini antara lain karena orang beriman pasti akan mengalami berbagai ujian. Dengan ujian itu, Allah bisa melihat kualitas keimanan seseorang. Oleh sebab itu, orang yang istiqamah tentu akan berhasil menghadapi ujian-ujian. Di dalam al-Qur’an dijelaskan:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُون
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan ‘kami telah beriman sedang mereka tidak diuji lagi?” [Q.s. al-‘Ankabuut (29): 2].
Ujian keimanan seseorang bisa dalam bentuk menyenangkan, dan begitu pula sebaliknya. Keberhasilan bisnis adalah ujian, demikian halnya dengan kebangkrutannya. Seorang mukmin yang istiqamah akan tetap teguh dengan keimanannya menghadapi dua macam ujian tersebut. Dia tidak mundur oleh ancaman, siksaan dan segala macam hambatan lainnya. Dia tidak terbujuk oleh harta, pangkat, kemegahan, pujian dan segala macam kesenangan semu lainnya. Itulah yang dipesankan oleh Rasulullah SAW kepada Sufyan di atas, “beriman dan beristiqamah”.
Rasulullah SAW merupakan contoh teladan utama dalam istiqamah. Baik dengan siksaan, ancaman, dan celaan maupun dengan bujukan, beliau tidak bergser sedikit pun dari jalan Allah. Terhadap bujukan pemuka Quraisy misalnya, Nabi menjawab dengan tegas: “Paman, demi Allah, kalau pun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku dengan maksud supaya Aku meninggalkan tugas dakwah ini, sungguh tidak akan Aku tinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu ada di tanganku, atau Aku binasa karenanya.”
Keteguhan hati itu pulalah yang diperlihatkan oleh Bilal ibn Rabbah tatkala disiksa oleh majikannya. Tidak sedikit pun imannya goyah. Ketika disiksa dengan diletakkan sebongkah batu besar di atas dadanya, dia berbisik: “ahad, ahad” dengan penuh keyakinan. Yasser dan Sumayyah, sepasang suami istri syuhada awal Islam, juga rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan keimanannya.

Perintah Istiqamah  
Istiqamah merupakan salah satu akhlak yang sangat penting dimiliki oleh seorang beriman. Untuk itu Allah SWT memerintahkan agar seorang mukmin beristiqamah. Terkait dengan hal ini, Allah berfirman:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ ۗ وَوَيْلٌ لِلْمُشْرِكِينَ
Katakanlah, bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka istiqamahlah menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menyekutukan-Nya” [Q.s. Fushshilat (41): 6].
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Maka beristiqamahlah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan juga orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” [Q.s. Huud (11): 112].
فَلِذَٰلِكَ فَادْعُ ۖ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُم
Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan istiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka….” [Q.s. asy-Syuura (42): 15].

Buah Istiqamah
Sebagai sebuah akhlak yang mulia, sikap istiqamah yang dimiliki oleh orang beriman akan membuahkan banyak hal-hal positif. Dalam surat Fushshilat ayat 30-32 disebutkan: 
إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَـٰٓٮِٕڪَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمۡ تُوعَدُونَ -٣٠- نَحۡنُ أَوۡلِيَآؤُكُمۡ فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَفِى ٱلۡأَخِرَةِ‌ۖ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَشۡتَهِىٓ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ -٣١- نُزُلاً۬ مِّنۡ غَفُورٍ۬ رَّحِيمٍ۬ – ٣٢
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.” [Q.s. Fushshilat (41): 30-32].
Dalam ayat-ayat di atas dijelaskan bahwa orang yang beristiqamah dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih yang negatif. Takut di sini tentu bukan takut yang manusiawi, seperti takut kepada binatang buas atau kepada hal-hal berbahaya lainnya. Rasa takut yang negatif misalnya adalah takut menyatakan kebenaran, menghadapi masa depan, dan mengalami kegagalan. Ketakutan seperti itu akan menghambat kemajuan dan bahkan menyebabkan kemunduran. Seseorang tidak akan dapat berbuat apa-apa apabila selalu dipenuhi rasa takut.
Rasa sedih yang dimaksud di sini juga bukanlah rasa sedih yang manusiawi, seperti kesedihan tatkala orangtua, anak, atau orang-rang yang dikasihi meninggal dunia, atau ketika sedang mengalami kegagalan dalam usaha. Rasa sedih yang mesti dihindari adalah rasa sedih yang berlarut-larut dan menyebabkan kehilangan semangat dan selalu diliputi penyesalan. Setiap orang yang mengalami musibah atau kegagalan tentu akan bersedih. Tapi ada orang yang dapat segera menguasai kesedihannya dan ada pula orang yang larut dalam kesedihan itu. Ibarat orang yang hanyut di sungai, orang yang pertama segera berenang ke pinggir untuk mencari pegangan, sedangkan orang yang kedua terus hanyut dibawa arus. Jadi, orang yang istiqamah tidak takut menghadapi masa depan dan tidak akan hanyut dalam kesedihan. Dia dapat menguasai rasa sedih karena musibah yang menimpanya sehingga tidak hanyut dibawa arus kesedihan. Dia juga tidak gentar dan waswas menghadapi kehidupan masa yang akan datang, sekalipun dia pernah mengalami kegagalan pada masa lalu.
Selanjutnya, orang yang beristiqamah akan mendapatkan kesuksesan dalam kehidupannya di dunia. Hal ini disebabkan karena dia dilindungi oleh Allah SWT. Lindungan Allah itu juga berarti jaminan untuk mendapatkan kesuksesan dalam hidup dan perjuangan di dunia. Sahabat-sahabat yang berjuang dalam Perang Badar misalnya, sekalipun jumlahnya kurang dari sepertiga musuh, mereka tidak gentar dan tidak mundur. Mereka istiqamah, maju terus ke medan perang dengan gagah berani. Akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada mereka. [Baca: Q.s. al-Anfaal (8): 45]. Begitu juga di akhirat. Orang yang istiqamah akan berbahagia. Allah SWT berjanji akan melindungi mereka di akhirat. Itu berarti mereka akan dibalas dengan surga tempat segala kenikmatan dan kebahagiaan. Mereka akan menikmati karunia Allah di dalam surga itu.
Demikianlah, sikap istiqamah memang sangat diperlukan dalam kehidupan ini. Tanpa sikap itu, seseorang akan cepat berputus asa, cepat lupa diri, dan mudah terombang-ambing oleh berbagai macam arus yang menggoda dalam kehidupannya. Orang yang tidak istiqamah ibarat baling-baling di atas bukit. Dia berputar menuruti ke mana arah angin berhembus [  ]

narasumber utama artikel ini:
Neni Yul Yanti

[1] Disadur dari buku Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlak, (Yogyakarta: LPPI UMY), hlm. 97-103.

CIRI DAN SIKAP ORANG MUNAFIK

Tafsir Surat al-Baqarah ayat 8-20

Karena orang munafik itu tidak sehat keyakinannya, maka akhirnya pendiriannya tidak menentu, terombang-ambing ke sana dan ke mari. Perumpamaan orang munafik adalah seperti domba yang bingung antara dua kambing, kadang-kadang tersesat ke sini dan kadang-kadang tersesat ke sana (Shahih Muslim). Sekalipun demikian, mereka tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang dan tidak adil, sebab mereka masih dapat diharapkan kembali kepada kebenaran, insya Allah, dan dengan tegas Rasulullah melarang berbuat sewenang-wenang kepada mereka.


Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman (8).
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar (9).
Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih disebabkan mereka berdusta (10).
Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (11)
Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar (12).
Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu (13).
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”, tetapi bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (14)
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka (15).
Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk (16).
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat (17).
Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar) (18).
Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati, dan Allah meliputi orang-orang yang kafir (19).
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu (20). (Qs. al-Baqarah: 8-20)


Tafsir Mufradat
An-Nas: bentuk ism jama’, seperti “qaum”, dan bentuk mufrad (tunggal)-nya: insan, yang diambil dari lafal lain. Arti an-Nas: manusia. (Ibnu Manzur, di bawah kata anasa). Dalam al-Qur’an, kata tersebut diulang sebanyak 241 kali.
Al-Yaum al-akhir: hari akhir; hari akhir dimulai dari saat dikumpulkannya manusia di makhsyar (tempat dikumpulkannya manusia sesudah dibangkitkan) hingga waktu yang tidak terhingga, atau hingga ahli surga masuk dalam surga dan ahli neraka masuk ke dalam neraka. (al-Maraghi, 1: 49). Dalam al-Qur’an, kata tersebut diulang sebanyak 141 kali, 58 diantaranya dihubungkan dengan kata “ad-Dunya” (dunia), untuk memberikan pengertian bahwa masalah ukhrawi (keakhiratan) tidak dapat dipisahkan dengan masalah duniawi (keduniaan).
Al-Qulub: bentuk jama’ dari “al-Qalb” (hati), pada ayat tersebut di atas, al-Qalb berarti akal.
Asy-Syaitan: al-Ba’id (yang jauh), disebut syaitan karena jauh dari kebenaran, jauh dari rahmat Allah. Kata tersebut berasal dari kata “syatana-yasytunu-syatnan” (jauh; menyimpang).
Pada ayat tersebut (15), asy-syaitan berarti penyebar fitnah, pembuat kerusakan, pembela kebathilan yang menghalang-halangi agar tidak mengikuti kebenaran, dengan cara menghembuskan keragu-raguan dan menanamkan permusuhan serta pertikaian dalam masyarakat. (Rasyid Rida, I: 163). Dalam al-Qur’an, kata tersebut diulang sebanyak 88 kali. 18 diantaranya dalam bentuk jama’.

Tafsir ayat
Menurut Ibnu ‘Abbas, ayat-ayat tentang orang-orang munafik diturunkan berkenaan dengan orang-orang munafik dari suku Khazraj dan suku Aus. (Ibnu Kasir, tafsir al-Qur’an al-‘Azim, I: 83). Orang yang paling terkenal dikalangan orang-orang munafik ialah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. (Al-Qasimiy, 1978, II:44).
Pada ayat sebelumnya (2-5), Allah telah menjelaskan sifat-sifat golongan mukminin, orang-orang yang bertaqwa kepada Allah, yang mengikhlaskan (memurnikan) agamanya hanya untuk mencari keridaan Allah SWT, yang batinnya sama dengan perbuatan dan perkataannya. Kemudian pada ayat berikutnya, yaitu ayat 6-7, Allah menjelaskan sifat-sifat para orang kafir, yang menentang dan mengingkari ketauhidan Allah, baik lahir maupun batinnya. Kemudian pada ayat 8-20 Allah menjelaskan tingkah laku dan sifat-sifat golongan munafiqin, yaitu orang-orang yang menampakkan keimanan dan kebaikannya, tetapi merahasiakan kejahatannya. Menurut Ibnu Juraij, orang munafik ialah orang yang perkataannya tidak sama dengan perbuatannya, batinnya tidak sama dengan lahirnya. (Ibnu Katsir, 1966, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim, I:83).
Sifat-sifat orang munafiq sebagian besar diterangkan dalam surat-surat madaniyah (surat yang diturunkan sesudah Nabi hijrah ke Madinah), sebab di Makkah, sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah, belum terdapat nifaq (kemunafikan), bahkan sebaliknya, sebagian orang menampakkan kekafirannya, dalam hatinya ia beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, mengatakan bahwa munculnya orang-orang munafik sesudah perang Badar Kubra, setelah orang-orang dari suku Khazraj dan suku Aus masuk Islam, yang kemudian terkenal dengan “golongan Anshar”. (Ibnu Katsir, 1966, I: 84).
Tujuan penjelasan tentang sifat-sifat orang-orang munafik pada ayat-ayat tersebut di atas, ialah agar orang-orang mukmin tidak terpedaya oleh mereka dan agar terhindar dari segala macam kerusakan. Sifat orang-orang munafik sebagaimana disebutkan pada ayat 8-20 surat al-Baqarah antara lain ialah: mengaku beriman, berusaha menipu Allah SWT, Rasulullah SAW dan orang-orang mukmin dengan cara berpura-pura beriman kepada Allah, berpura-pura cinta kepada Nabi, dan berpura-pura cinta kepada orang-orang mukmin, tetapi sebenarnya mereka mengingkari Allah dan Rasul-Nya dan memusuhi Allah, Rasul dan orang-orang mukmin. Pada ayat-ayat tersebut (8-9) memang tidak disebutkan penipuannya kepada Rasul, tetapi secara rasional, setiap penipuan kepada Allah adalah penipuan kepada Rasul, sebab Rasulullah adalah utusan Allah yang menyampaikan perintah-Nya. Dengan demikian pula setiap penipuan kepada Rasul, adalah juga penipuan kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَ‌ۖ
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah (Qs. an-Nisa/4: 80).
Sifat munafik, sebagaimana disebutkan pada ayat 8-10, juga diungkapkan pada ayat-ayat lainnya, seperti dalam QS at-Taubah (9) ayat 64, 67, 68, 77, 97 dan 101, QS al-Ahzab (33) ayat 12, 60, 73, dan di beberapa ayat lainnya.
Sifat munafik juga diungkapkan dalam beberapa hadits, seperti: Kamu akan menemukan orang yang paling jahat bagi Allah pada hari kiamat, yaitu orang yang bermuka dua, jika bertemu dengan segolongan orang, bermuka begini, tetapi jika bertemu dengan golongan lainnya, bermuka lain. (Sahih al-Bukhariy, dari Abi Hurairah, kitab al-Adab, IV: 39).
Dalam hadis lainnya Rasulullah bersabda:
أَيَةُ الْمُنَافِقُوْنَ ثَلاَثٌ: إذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا أُؤْتُمِنَ خَانَ
Ciri-ciri orang munafik ada tiga: apabila berkata selalu berdusta, apabila berjanji selalu mengingkarinya, dan apabila diberi amanat selalu mengkhianatinya.
Dari penjelasan hadis tersebut, sangat tampak bahwa orang munafik di mana pun dan kapan pun sangat berbahaya. Karena itulah Rasulullah SAW sangat berhati-hati terhadap mereka, sebab sifat-sifat yang demikianlah yang merusak kehidupan masyarakat.
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini di terangkan ayat demi ayat. Pada ayat 8-10, sifat-sifat orang munafik diungkapkan sebagai berikut.
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ (8) يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ (9) فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ۬ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضً۬ا‌ۖ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمُۢ بِمَا كَانُواْ يَكۡذِبُونَ 10
Diantara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman (8). Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar (9). Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta (10).

Ketika menafsirkan ayat 8 dan 9 tersebut, Rasyid Rida menjelaskan bahwa ayat tersebut bukanlah berkenaan dengan orang-orang munafik yang hidup pada masa turunnya al-Qur’an, maupun yang hidup pada masa sekarang ataupun yang hidup pada masa yang akan datang. Karena itulah pada ayat tersebut tidak disebutkan: “dan iman kepadamu hai Muhammad”. (Rasyid Rida, I: 149).
Pada ayat 10, dinyatakan bahwa “dalam hati mereka ada penyakitnya, lalu ditambah Allah penyakitnya.” Pada ayat tersebut digunakan kata isti’arah (metafora): pemakaian kata yang bukan dengan arti yang sebenarnya, karena yang dimaksudkan dengan penyakit dalam hati, bukanlah karena hatinya terkena kuman atau virus, melainkan yang dimaksudkan, ialah bahwa keyakinan mereka tidak sehat, sebab tidak sesuai dengan al-Qur’an. Maka hati orang-orang mukmin dikatakan sehat, sebab keyakinannya sehat, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٍ۬ سَلِيمٍ۬ 89
Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (Qs. asy-Syu’ara/26: 89).

Karena orang munafik itu tidak sehat keyakinannya, maka akhirnya pendiriannya tidak menentu, terombang-ambing ke sana dan ke mari, sebagaimana diungkapkan dalam suatu hadits Nabi SAW:
مَثَلُ الْمُنَافِقُوْنَ كَمَثَلِ الشَّاةِ الْمَائِرَةُ بَيْنَ الْغَنَمَيْنِ تَعِيْرُ إِلَي هَذَا مَرَّةً وَإِلَي هَذَا مَرَّةً
Perumpamaan orang munafik adalah seperti domba yang bingung antara dua kambing, kadang-kadang tersesat ke sini dan kadang-kadang tersesat ke sana. (Shahih Muslim, dari Ibnu ‘Umar, Sifatul Munafiqin: 17).
Sekalipun demikian, mereka tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang dan tidak adil, sebab mereka masih dapat diharapkan kembali kepada kebenaran, insya Allah, dan dengan tegas Rasulullah melarang berbuat sewenang-wenang kepada mereka, sebagaimana diungkapkan dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah:
Datanglah seseorang kepada Rasulullah SAW di Ji’narah, dan baru saja keluar dari perang Hunain. Ketika itu Bilal membawa perak dalam bajunya, kemudian Rasulullah mengambilnya dan membagikannya kepada orang-orang yang berada di tempat itu. Lalu berkatalah orang tersebut: Hai Muhammad berbuat adil! Kemudian bersabdalah Rasulullah: Mengapa kamu berkata seperti itu? Siapa yang dapat berbuat adil jika saya tidak berbuat adil? Sungguh aku gagal dan merugi, jika tidak dapat berbuat adil. Kemudian berkatalah ‘Umar bin Khattab: Ya Rasulullah, biarlah saya bunuh orang munafik itu. Kemudian Rasulullah bersabda: Jangan! Aku mohon perlindungan kepada Allah dari perbincangan orang, bahwa saya membunuh sahabatku. Sesungguhnya orang-orang munafik ini dan sahabat-sahabatnya juga membaca al-Qur’an, tetapi tidak sampai ke kerongkongan mereka, mereka melepaskannya sebagaimana lepasnya anak panah dari sasarannya.” (Shahih Muslim, dari Jabir bin ‘Abdillah, Kitabuz-Zakah: 142).
Ketika menafsirkan ayat ini, Rasyid Ridha menjelaskan, bahwa yang dimaksudkan dengan “qalb” (hati) adalah akal, dan yang dimaksudkan dengan penyakit adalah segala sesuatu yang dapat menggangu akal, sehingga daya tangkapnya menjadi lemah dan timbullah keraguan dan kesamaran serta kegelapan. (Rasyid Rida, I: 153). Akal adalah salah satu unsur yang membedakan antara yang hak dan yang batil, jika akalnya sehat, ia akan lebih cinta kebenaran dan dapat terhindar dari keraguan dan kegoncangan. Orang munafik dilukiskan sebagai orang yang hatinya berpenyakit, karena ia lebih suka kebatilan, sebab akalnya tidak sehat atau lemah, sehingga merusak aqidah.
Menurut Muhammad Abduh, sebab-sebab kelemahan akal ialah:
  1. Karena pembawaan, seperti idiot.
  2. Karena kesalahan pendidikan dan pengarahan terhadap akalnya, seperti muqallid (orang yang mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui alasan-alasannya), yang mengikuti nenek moyangnya tanpa mengetahui alasan-alasannya. (Rasyid Rida, I: 154). Orang seperti inilah yang dilukiskan dalam firmannya:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۚ أَوَلَوۡ ڪَانَ ٱلشَّيۡطَـٰنُ يَدۡعُوهُمۡ إِلَىٰ عَذَابِ ٱلسَّعِيرِ 21
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “ikutilah apa yang diturunkan Allah”, mereka menjawab, “(tidak), tapi kami akan mengikuti apa yang kami dapati (dijalani) moyang kami”. Apakah mereka (akan mengikuti moyang mereka) walaupun syaitan memanggil mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (Qs. Luqman/31: 21)
Akhirnya mereka menyesali perbuatannya, sebagaimana dilukiskan dalam firmannya:
وَقَالُواْ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۟ 67
Dan mereka berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar) (Qs. al-Ahzab/33: 67)
Penyakit orang munafik terus bertambah dan berkembang setiap datang ajakan kepada kebenaran, bahkan semakin bertambah dendam dan dengkinya kepada Rasulullah SAW, sebagaimana dilukiskan dalam firman Allah:
وَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ۬ فَزَادَتۡہُمۡ رِجۡسًا إِلَىٰ رِجۡسِهِمۡ وَمَاتُواْ وَهُمۡ ڪَـٰفِرُونَ 125
Adapun orang-orang yang hatinya ada penyakit, maka bertambahlah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir (Qs. at-Taubah/9: 125).
Kemudian ayat 10 ditutup dengan ancaman: bahwa mereka akan mendapat siksa yang pedih, karena kebohongannya.
Selain ancaman yang disebutkan pada akhit ayat 10, terdapat juga ancaman-ancaman terhadap oorang-orang munafik yang lebih keras, antara lain ialah:
إِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ فِى ٱلدَّرۡكِ ٱلۡأَسۡفَلِ مِنَ ٱلنَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمۡ نَصِيرًا 145
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka (Qs. an-Nisa/4: 145).
Ancaman-ancaman Allah terhadap orang-orang munafik, bertujuan untuk memperingatkan bahwa dusta itu sangat besar dosanya, sebab dusta adalah sumber segala kejahatan.
Pada ayat 11 dan 12, sifat orang munafik diungkapkan sebagai berikut (terjemah)
Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar (QS al-Baqarah: 11-12).
Al-Qosimiy, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan perbuatan kerusakan di muka bumi, ialah memberikan bantuan kepada orang-orang kafir dalam memusuhi oarang-orang Islam, dengan menyampaikan rahasia orang-orang Islam kepada orang-orang kafir, membuat provokasi, menjadikan orang-orang kafir sebagai teman karib, mengajak orang-orang kafir agar mendustakan Nabi SAW, menanamkan sikap keragu-raguan dan dendam, sehingga mengobarkan permusuhan orang-orang kafir terhadap Nabi dan menimbulkan peperangan yang mengakibatkan kerusakan besar di muka bumi ini (al-Qosimiy, II: 47). Namun, mereka tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah berbuat kerusakan. Bahkan lebih parah lagi, karena mereka telah menghalang-halangi orang-orang dari kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Pada ayat 13, kesombongan orang-orang munafik dilukiskan sebagai berikut (terjemah):
Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu (QS al-Baqarah: 13)
Mereka beranggapan bahwa para pengikut Nabi SAW adalah orang-orang bodoh. Orang-orang Muhajirin dikatakan bodoh, karena mereka meninggalkan kampung halamannya serta rumah-rumah yang ada di Makkah. Adapun orang-orang Anshar, mereka dianggap bodoh, karena mereka bergabung dengan orang-orang Muhajirin. (al-Maraghiy, 1969, II: 45).
Ketika menafsirkan ayat tersebut, Rasyid Rida menjelaskan bahwa diantara orang-orang munafik yang paling jahat adalah Abdullah bin Ubay bin Salul dan para sahabatnya. Mereka tidak sadar bahwa merekalah sebenarnya yang bodoh. (Rasyid Rida, I: 161).
Kejahatan orang-orang munafik tidak terbatas hanya dalam masalah keimanan saja, melainkan juga dalam masalah sosial ekonomi, sebagaimana diungkapkan dalam firmannya:
هُمُ ٱلَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنفِقُواْ عَلَىٰ مَنۡ عِندَ رَسُولِ ٱللَّهِ حَتَّىٰ يَنفَضُّواْ‌ۗ وَلِلَّهِ خَزَآٮِٕنُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَـٰكِنَّ ٱلۡمُنَـٰفِقِينَ لَا يَفۡقَهُونَ 7
Merekalah orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Anshar): “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada disisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).” Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami (Qs. al-Munafiqun/63: 7)
Kemudian ayat tersebut ditutup dengan firmannya: “ Wa lakin la ya’lamun” (tetapi mereka tidak tahu), memberikan pengertian bahwa iman itu harus berdasarkan ilmu dan keyakinan, sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat tidak dapat dicapai kecuali dengan mengetahui hakikatnya, sedang hakikat tidak dapat diketahui kecuali dengan ilmu.
Kemudian sifat orang-orang munafik dilukiskan lebih jelas lagi pada ayat 14 dari surat al-Baqarah (terjemah):
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman”. dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya Kami sependirian dengan kamu, Kami hanyalah berolok-olok.” (QS al-Baqarah: 14)
Demikianlah ciri-ciri orang-orang munafik pada masa turunnya al-Qur’an; pada masa Nabi SAW. Kemunafikan dan kerusakan akhlaknya sudah tidak terukur lagi. Mereka menampakkan diri dengan dua wajah dan berkata dengan dua mulut. Ciri-ciri semacam itu telah diwarisi oleh orang-orang munafik masa kini, bahkan lebih canggih lagi, sehingga kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan pun lebih besar.
Sebenarnya orang-orang munafik itu merahasiakan sikap mereka dengan sangat ketat, agar tidak ketahui oleh kaum mu’minin, tetapi Allah membukanya lewat al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi SAW, sehingga dapat diketahui rencana jahat mereka terhadap orang-orang mu’min.
Kemudian Allah membalas olok-olokan mereka dengan balasan yang lebih pedih, sebagaimana ditegaskan pada ayat berikutnya; ayat 15 (terjemah).
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (Qs. Al-Baqarah: 15)
Olok-olokan Allah tersebut dilakukan dengan cara memperpanjang kenikmatan-Nya kepada mereka dan menunda siksaan-Nya terhadap mereka, sehingga mereka merasa sangat tersiksa karena tertipu. (Rasyid Rida, II:164).
Orang-orang munafik sebenarnya telah berusaha dengan seluruh kemampuannya untuk menipu Nabi SAW dan orang-orang mu’min, tetapi tipu daya Allah SWT lebih baik, seperti diungkapkan dalam firman-Nya:
وَمَڪَرُواْ وَمَڪَرَ ٱللَّهُ‌ۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَـٰكِرِينَ
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya. (Qs. Ali Imran/3: 54).
Bentuk istihza’ (olok-olokan) Allah kepada orang-orang munafik diungkapkan juga dibeberapa ayat lainnya dengan ungkapan yang berbeda, seperti:
يَوۡمَ يَقُولُ ٱلۡمُنَـٰفِقُونَ وَٱلۡمُنَـٰفِقَـٰتُ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱنظُرُونَا نَقۡتَبِسۡ مِن نُّورِكُمۡ قِيلَ ٱرۡجِعُواْ وَرَآءَكُمۡ فَٱلۡتَمِسُواْ نُورً۬ا فَضُرِبَ بَيۡنَہُم بِسُورٍ۬ لَّهُ ۥ بَابُۢ بَاطِنُهُ ۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَـٰهِرُهُ ۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ 13
Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: “Tunggulah Kami supaya Kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu”. dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. (Qs. Al-Hadid/57: 13)
Pada ayat 29-34 dari surat al-Muthaffifin (83) Allah berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ أَجۡرَمُواْ كَانُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ يَضۡحَكُونَ (29) وَإِذَا مَرُّواْ بِہِمۡ يَتَغَامَزُونَ (30) وَإِذَا ٱنقَلَبُوٓاْ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِمُ ٱنقَلَبُواْ فَكِهِينَ (31) وَإِذَا رَأَوۡهُمۡ قَالُوٓاْ إِنَّ هَـٰٓؤُلَآءِ لَضَآلُّونَ (32) وَمَآ أُرۡسِلُواْ عَلَيۡہِمۡ حَـٰفِظِينَ (33) فَٱلۡيَوۡمَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنَ ٱلۡكُفَّارِ يَضۡحَكُونَ 34
Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman (29.) Dan apabila orang-orang yang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya (30). Dan apabila orang-orang yang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira (31). Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat” (32). Padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin (33). Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir (34). (Qs. Al-Muthaffifin/83: 29-34)
Kemudian pada ayat 16 orang-orang munafik itu dinyatakan bahwa usahanya tidak berhasil, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya berikut. (terjemah)
Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (Qs. al-Baqarah: 16)
Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa orang-orang munafik itu telah membeli kesesatan dengan petunjuk. Pernyataan tersebut memberikan pengertian bahwa kesesatan mereka adalah karena perlakuan dan usaha mereka sendiri, bukan karena diciptakan demikian secara paksa. Sebab pada dasarnya manusia itu dilahirkan dalam keadaan beriman kepada Allah, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَأَشۡہَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِہِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡ‌ۖ قَالُواْ بَلَىٰ‌ۛ شَهِدۡنَآ‌ۛ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ إِنَّا ڪُنَّا عَنۡ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ 172
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (Qs. Al-A’raf/7: 172)
Kemudian ayat tersebut (16) ditutup dengan firman-Nya “ Fa ma rabihat-tijaratuhum wa ma kanu muhtadin” (maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk). Karena usaha meraka tidak menghasilkan buah yang nyata, bahkan mereka merugi dan kecewa, karena perpanjangan kenikmatan kepada mereka dan penundaan hukuman bagi mereka tidaklah ada manfaatnya. Dan meraka tidak memperoleh petunjuk, karena mereka tidak dapat memahami al-Qur’an dengan pemahaman yang benar.
Untuk mempermudah pemahaman tentang sifat-sifat kaum munafiqin, Allah membuat perumpamaan bagi mereka, sebab penjelasan dengan perumpamaan lebih mudah dipahami. Maka pada ayat 17 dan 18 Allah mengungkapkan mereka dalam perumpamaan sebagai berikut (terjemah):
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat (17). Mereka tuli, bisu dan buta, Maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar) (18). (Qs. Al-Baqarah: 17-18)
Karena al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, maka dalam menjelaskan makan dan maksudnya dipergunakan uslub (susunan) bahasa Arab. Amsal (perumpamaan) adalah salah satu uslub yang banyak dipergunakan dalam al-Qur’an untuk menjelaskan berbagai masalah. Sebab perumpamaan adalah lebih mudah dipahami, lebih mudah menembus jiwa seseorang, dan pengaruhnya sangat besar, serta lebih mampu menampakkan hal-hal yang tersembunyi dan lebih kuat dalam menghapus dan menghilangkan kesamaran. Untuk itulah Allah menggunakan perumpamaan dalam menjelaskan keadaan orang-orang munafik pada ayat tersebut.
Allah melukiskan keadaan orang-orang munafik ketika mula-mula masuk Islam dan cahaya iman pun masuk dalam hati mereka. Tetapi kemudian masuklah keraguan dalam jiwa mereka, lalu mereka mengingkari dan meninggalkan cahaya iman, karena meraka tidak memperoleh keuntungan dan kebaikan. Maka mereka akhirnya tidak dapat dapat melihat jalan hidayah dan tidak dapat mencapai jalan keselamatan, padahal cahaya iman itu telah menyinari orang-orang yang berada di sekitar mereka, yaitu orang-orang mukmin. Keadaan mereka dilukiskan seperti orang-orang yang menyalakan api untuk menghilangkan kegelapan di sekitar mereka. Tetapi setelah sinar itu menyinari tempat-tempat dan benda-benda di sekitarnya, turunlah kekuatan yang sangat rahasia yang turun dari langit, seperti hujan lebat atau seperti angin puyuh yang memporakporandakan dan memadamkan sinar tersebut, sehingga mereka berada dalam kegelapan dan tidak dapat melihat sesuatu pun yang berada di sekitar mereka. Kemudian mereka seperti orang yang bisu, tuli dan buta, seperti orang yang kehilangan panca indera, karena tidak dapat memfungsikan panca inderanya. Apa gunanya pendengaran jika tidak dimanfaatkan untuk mendengarkan petunjuk? Apa gunanya penglihatan jika tidak dimanfaatkan untuk melihat sesuatu yang baik untuk dijadikan pelajaran guna menambah hidayah?
Maka barangsiapa tidak memanfaatkan pendengaran, mulut dan penglihatan untuk kebaikan, seakan-akan kehilangan seluruh panca inderanya. Maka bagaimana mungkin mereka dapat keluar dari kesesatan atau kembali kepada kebenaran.
Al-Maragiy dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah membuat perumpamaan seperti disebutkan pada ayat 17 dan 18 bagi orang-orang munafik, karena meraka tidak memanfaatkan panca inderanya untuk kebaikan. (al-Maragiy, 1969, I: 59).
Menurut al-Qasimy, amsal (perumpamaan) biasanya dipergunakan untuk menjelaskan keadaan, kisah-kisah atau sifat yang mempunyai keistimewaan dan keajaiban, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya ketika menjelaskan keajaiban surga:
مَّثَلُ ٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِى وُعِدَ ٱلۡمُتَّقُونَ‌ۖ تَجۡرِى مِن تَحۡتِہَا ٱلۡأَنۡہَـٰرُ‌ۖ أُڪُلُهَا دَآٮِٕمٌ۬ وَظِلُّهَا‌ۚ تِلۡكَ عُقۡبَى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ‌ۖ وَّعُقۡبَى ٱلۡكَـٰفِرِينَ ٱلنَّارُ 35
Perumpamaan syurga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka. (Qs. Ar-Ra’d/13: 35)
Pada ayat lainnya Allah berfirman:
لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأَخِرَةِ مَثَلُ ٱلسَّوۡءِ‌ۖ وَلِلَّهِ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰ‌ۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 60
Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, mempunyai sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. An-Nahl/16: 60)
Pada ayat lainnya Allah berfirman:
ذَٲلِكَ مَثَلُهُمۡ فِى ٱلتَّوۡرَٮٰةِ‌ۚ وَمَثَلُهُمۡ فِى ٱلۡإِنجِيلِ كَزَرۡعٍ أَخۡرَجَ شَطۡـَٔهُ ۥ فَـَٔازَرَهُ ۥ فَٱسۡتَغۡلَظَ فَٱسۡتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِۦ يُعۡجِبُ ٱلزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِہِمُ ٱلۡكُفَّارَ‌ۗ وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ مِنۡہُم مَّغۡفِرَةً۬ وَأَجۡرًا عَظِيمَۢا 29
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). (Qs. Al-Fath/48: 29)
Kisah surga adalah kisah yang sangat menakjubkan, baik keindahan maupun kenikmatannya, sifat Allah adalah sifat yang Maha Agung dan Maha Mulia, dan pengikut Nabi Muhammad juga sangat menakjubkan. Karena itulah Allah menjelaskan dengan membuat perumpamaan-perumpamaan. (al-Qasimiy, 1978, II: 56).
Untuk lebih mengenal keadaan orang-orang munafik, baik mereka yang hidup pada masa permulaan Islam maupun yang hidup pada masa kini atau pada masa yang akan datang, Allah menggambarkan mereka dengan perumpamaan yang lain, sebagaiamana disebutkan pada ayat 19 dan 20 (terjemah):
Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. dan Allah meliputi orang-orang yang kafir (19). Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu (20). (Qs. Al-Baqarah: 19-20)
Pada ayat 17 dan 18 Allah menggambarkan orang-orang munafik seperti orang yang menyalakan api, kemudian dia memadamkan lagi, sedang pada ayat 19 dan 20 Allah menggambarkan mereka seperti orang yang ditimpa hujan lebat, yang dapat melenyapkan pendengaran dan penglihatan. Yang demikian itu untuk menggambarkan keadaan orang-orang munafik dan menjelaskan kekejian perbuatan mereka, dengan tujuan untuk memberikan peringatan dan pelajaran agar berhati-hati terhadap mereka. Sebab mereka selalu menyebarkan fitnah dan kekacauan dalam masyarakat. Sebenarnya mereka telah memperoleh hidayah Ilahiyah dari langit, tetapi kemudian tertimpa kegoncangan iman dan kekacauan serta kegelapan taqlid . juga merasa takut terhadap orang-orang kafir yang ada di sekitar mereka ketika mengerjakan hal-hal yang bertentangan dengan pendapat mereka. Kemudian mereka mendapatkan cahaya hidayah lagi ketika didatangi seorang Da’i, dan tampaklah bagi mereka tanda-tanda kekuasaan Allah dengan jelas, karena adanya bukti dan hujjah yang kuat, maka mereka pun mempunyai keinginan yang sangat kuat untuk mengikuti kebenaran, karena cahaya hidayah tersebut. Namun kemudian mereka kembali lagi kepada kegelapan dan kegoncangan jiwa, serta kebingungan, bagaikan orang yang berada di padang pasir, yang ditimpa oleh kegelapan malam dan hujan lebat yang disertai angin ribut dan kilat, serta guruh yang keras dan menakutkan, sehingga mereka harus menutupi telinga mereka dengan jari-jari tangannya. Tetapi usaha tersebut tidaklah dapat menyelamatkan mereka dari bencana yang telah ditetapkan Allah SWT. Semua itu mengandung hikmah dan kemaslhatan yang kadang-kadang tidak dapat kita ketahui. (al-Maragiy, I: 60).
Rasyid Rida dalam tafsirnya memperingatkan agar berhati-hati terhadap penafsiran sebagian ulama yang kurang mengindahkan kesahihan sumbernya. Misalnya al-Jalal as-Siyutiy menafsirkan “ar-Ra’ad” (guntur) adalah Malaikat, atau suaranya, “al-Baq” (kilat) adalah cambuknya, untuk menghalau awan. Seakan-akan Malaikat adalah makhluk yang bertubuh, sebab suara yang dapat didengar adalah ciri-ciri makhluk yang bertubuh. Dan seakan-akan awan adalah binatang himar yang bandel, tidak mau berjalan kecuali dengan dihardik dan dicambuk berkali-kali. Demikianlah pemahaman sebagian orang Arab. Sebenarnya tidaklah boleh memalingkan dari makna alam syahadah (yang dapat dilihat) kepada makna alam ghaib (yang tidak dapat dilihat) yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Hanya saja sebagian mufassir senang mengumpulkan penafsiran-penafsiran yang tidak ada sumbernya, seperti kisah-kisah israiliyat yang berasal dari orang-orang Yahudi untuk menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an. (Rasyid Ridla, I: 174).
Sebagian besar kisah-kisah Israiliyat disampaikan oleh empat tokoh yang terkenal, yaitu: Abdullah bin Salam, Ka’ab al-Ahbar, Wahab ibnu Munabbih dan Abdul Malik bin Abdil Aziz bin Juraij. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa periwayatan dari mereka tidak dapat dipercaya, dan harus ditinggalkan. (Az-Zahabiy, 1976, at-Tafsir wa al-Mufassiruun, I:183).
Ayat tersebut ditutup dengan firman-Nya: “inna Allaha ‘ala kulli syai’in qadir”. (sesungguhnya Allah Maha berkuasa atas segala sesuatu). Pernyataan tersebut sebagai ancaman terhadap orang-orang munafik, bahwa Allah berkuasa menghilangkan pendengaran dan penglihatan mereka jika berkehendak. Juga memberikan pengertian bahwa kehendak Allah amat erat kaitannya dengan kekuasaan-Nya.

Kesimpulan
  1. Allah swt menyebutkan ciri-ciri orang-orang munafik pada ayat-ayat tersebut dengan sepuluh sifat, yaitu al-kadzab (dusta), al-khida’ (reka daya), al-makr (makar), as-safih (dungu), istihza’ (penghinaan), al-ifsad (berbuat kerusakan), al-jahl (bodoh), adh-dhalal (sesat), at-tadzabdzub (terombang-ambing), as-sukhriyyah (sombong).
  2. Orang-orang munafik, menampakkan imannya, tetapi batin mereka tidak beriman sebagaimana orang-orang kafir. Karena itulah Rasulullah SAW sangat berhati-hati terhadap mereka, dan memperingatkan kepada seluruh kaum muslim agar waspada, sebab sebenarnya mereka sangat berbahaya.
Narasumber
Neni Yul Yanti