Arsip Blog

Kamis, 13 Oktober 2011

Jangan Pernah Pasrah pada Nasib, Berdoa dan berusahalah..



…Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah nasibnya sendiri …
Ayat ini sering disampaikan para Ustadz dan juga Motivator sebagai ayat motivasi tapi penyampaiannya sering kurang lengkap karena hanya dipotong bagian tengahnya. Kita harus merubah nasib kita sendiri. Ingin pandai harus rajin belajar, ingin kaya juga harus rajin berusaha. Hanya saja yang sering belum disampaikan kita hanya mampu berusaha tapi hakekat pandai, kaya sukses merupakan rahmat dan kasih sayang Allah.
DUIT lagi DUIT lagi, Doa Usaha Ilmu Tawakal kita harus berdoa,berusaha, berilmu juga harus tawakal kalau ingin sukses dan bahagia. Sukses memang penting tapi mampu bersyukur dan tawakal akan lebih sukses bahagia.
Tawakal jangan diartikan hanya pasrah saja tanpa usaha dan doa yang maksimal.
Rasulullah Muhammad pernah menegur sahabat yang tidak mengikat untanya dengan alasan tawakal kepada Allah, menyuruh untuk mengka untanya baru tawakal.Kita wajib usaha juga diiringi doa dengan segenap kemampuan baru kemudian tawakal ..
Aku setuju ayat ini sebagai motivasi berusaha dan berkerja lebih keras dan lebih cerdas tapi kalau diambil tengahnya saja tanpa penjelasan lebih lanjut bisa salah pengertian dan lupa diri. Setelah belajar dengan cerdas dan bekerja keras dan akhirnya sukses menjadi kaya mengangap semua berkat ilmu, kecerdasan dan kerja kerasnya saja. Tentu pembaca pernah dengar kisah Qarun yang dikubur bersama hartanya kemudian terkenal dengan harta karun.
Bisa juga sukses dan kaya membuat lupa diri karena sibuk mengurus dan menghitung kekayannya. Mungkin pembaca juga pernah tahu sahabat Nabi yang bernama Tsa’labah, yang sewaktu miskin rajin. Mohon didoakan Nabi supaya kaya sebenarnya Beliau sudah menolak untuk mendoakannya. Tapi sahabat ini terus mendesak akhirnya Nabi mendoakannya. Allah mengabulkan Tsa’labah kaya dan bertambah kaya serta selalu sibuk dengan ternaknya sehingga lupa kewajiban-kewajibannya. Bahkan menolak membayar zakat di waktu Nabi masih hidup sehingga Khalifarur Rasyidin juga tak mau menerima zakatnya karena sudah ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
Ini untuk mengingatkan diri saya sendiri dan juga pembaca yang setia beruaha memahami ayat-ayat Al Qur’an seutuhnya. Semoga bermanfaat.Amiin.

Rabu, 12 Oktober 2011

MENERIMA KEKURANGAN PASANGAN AKAN BERBUAH PAHALA



Ketika dua anak cucu adam sedang dimabuk cinta, semua yang ada pada pasangan adalah indah dan menarik. semua nampak mempesona, rasa ingin selalu disampingnya menyeret perasaan serta pikiran. singkat kata apapun yang dari dia adalah elok.
dalam pandangan kita saat itu dialah yang terbaik bagi kita, kasih sayangnya, perhatiannya, sungguh tiada tara, namun setelah akad nikah berlangsung, bulan madu pun sudah lewat, barulah muncul, sifat-sifat asli mulai nampak jelas, tak jarang sifat baik yang ditunjukkan waktu sebelum nikah sirna berganti dengan sifa sebaliknya, atau minimal ada sifat-sifat buruk dia yang tidak kita sukai, masih mending kalau itu hanya sifat-sifat yang tidak prinsipil, tapi jika perangai buruk itu berupa hal-hal prinsipil bisa sangat menyiksa.
memang tak ada manusia yang sempurna, dibalik sifat-sifat baiknya tentu ada juga sifat-sifat yang kurang kita senangi, inilah ujian, seorang suami yang shaleh kadang punya istri yang bertolak belakang, suaminya demen beramal shodaqoh,istrinya pelitnya minta ampun, atau sebaliknya.
bersabar menghadapi akhlaq yang tidak baik pasangan kita merupakan suatu amalan yang besar pahalanya.
Rasulullah SAW bersabda, ” Lelaki mana saja yang bersabar atas akhlaq jelek isterinya, Allah SWT akan memberikan pahala kepadanya seperti yang DIA berikan kepada Ayyub AS, karena kesabarannya atas bala’ yang menimpanya. Dan perempuan mana saja yang bersabar atas akhlaq buruk suaminya, Allah SWT akan memeberikan pahala kepadanya seperti yang DIA berikan kepada Aisyah binti Muza’im, istri fir’aun “. ( HR. Ath-Thabrani )
Sebagai penutup penulis teringat kisah tentang seseorang yang terkenal  sebagai waliyullah, suatu hari sang waliyullah ini kedatangan seorang tamu, karena ada hal penting yang perlu penjelasan panjang lebar, sang tamu diminta menginap, pagi harinya sebelum tamunya pamit pulang, sang waliyullah ini mempersilahkannya untuk sarapan ala kadarnya. Sang wali pun masuk kedalam rumah mengambil nasi beserta lauk pauknya, samar-samar si tamu mendengar istri sang wali dengan nada kesal bicara sama suaminya ” abah ini bagaimana, sudah tahu nasinya sedikit koq mau diberikan tamu?” sang wali pun menjawab dengan suara lembut dan pelan sehingga si tamu tidak begitu jelas apa yang diucapkan sang wali.
Selesai sarapan pagi, si tamu berpamit hendak pulang, tapi karena penasaran dia memberanikan diri bertanya kepada sang wali perihal istrinya yang dalam pandangannya ” berani” dengan suaminya.
” Njenengan(anda ) kan seorang wali, yang do’anya mustajab, dimana-mana dihormati orang, bagaimana bias istri anda sikapnya demikian dengan njenengan? ”  si tamu bertanya karena penasaran
Dengan didahukui senyumannya yang khas sang wali menjawab,
” justru karena sikap istri saya itulah yang menjadikan saya dianugerahi kelebihan seperti sekarang ini ”
” lho koq bisa? ” si tamu tambah penasaran
” saya menerima & bersabar dengan sikap istri saya seperti yang kamu ketahui tadi, dan karena kesabaran itulah Allah menganugerahi kelebihan kepadaku, mungkin kalau istriku tidak begitu, belum tentu saya memperoleh ladang amal kesabaran seperti sekarang ini “.
Si tamu pun akhirnya mafhum, jelas dengan jawaban sang waliyullah, dia pamit pulang, kata-kata terakhir dari sang wali yang masih berngiang ditelinganya ;
” jangan mengharapkan pasangan kita sempurna seperti yang kita inginkan, sebaliknya kita yang seharusnya menyesuaikan diri dengan segala kekurangannya, sebab tak ada manusia yang sempurna ”

Senin, 10 Oktober 2011

NAFSU DUNIA DAN KEMULIAAN AKHIRAT



Dua alam ciptaan Allah, alam dunia dan alam akhirat, mutlak berbeda dalam karakteristik dan esensi wujudnya. Walaupun begitu setiap manusia pasti memasuki dan bergumul di dalamnya.
Tak seorang pun dapat menghindar dari keberadaan di dalam alam dunia dan alam akhirat. Oleh karena kedua alam, baik secara realitas sejatinya ataupun karakteristiknya berbeda, setiap manusia diberikan potensi untuk dapat menyempurnakan eksistensi dirinya di dalam kedua alam tersebut sehingga dapat meraih puncak kesempurnaannya. Meskipun pada kenyataannya sebagian besar manusia justru mengalami kegagalan sebelum merealisasikan kesempurnaannya secara utuh..
Alam dunia, dengan segala watak dan karakteristiknya, adalah sebuah perjalanan sedangkan alam akhirat adalah persinggahan terakhir kita, kampung halaman, dan rumah kita yang abadi. Oleh karena itu meskipun kita dilahirkan di dunia, dan dunia menjadi tempat tinggal kita sekarang ini, namun realitas sejatinya, setidak-tidaknya secara spiritual, sedang berjalan jauh menuju tempat kembali hakiki kita, alam keabadian, alam akhirat. Di sanalah kita akan dihadapkan kepada berbagai peristiwa eskatologis yang belum pernah kita jumpai selama hayat kita.
Di tempat kembali itu masing-masing individu benar-benar akan merasakan sebagai makhluk moral yang harus mempertanggungjawabkan seluruh sepak terjang kita selama di dunia. Di sana pula akan terbukti jati diri kita yang sebenarnya, menjadi individu yang sejatinya terhormat mencapai kebaikan tertinggi atau bahkan menjadi hina dina terjerembab ke dalam lumpur keburukan.
Allah Swt telah menunjuki manusia jalan agar dapat mencapai tempatnya yang layak dalam penciptaan, di surga-Nya. Sebagai manusia bahkan kita diperintahkan agar menempuh jalan-Nya meskipun harus berjalan mendaki lagi sukar. Tidak sepatutnya di dunia yang fana ini menjadi tumpuan hidup.
Tidak sepatutnya pula kita bermegah-megah karena tunduk kepada pesonanya dan tidak menjadikannya sebagai medan perjuangan untuk menghimpun aset untuk kembali ke rumah asalnya. ”Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (QS, al-Balad [90]: 11).
Bukan harta yang akan menjadi aset kehidupan akhirat kita. Bisa jadi harta menjadi simbol kemuliaan dunia. Akan tetapi di balik simbol itu ada nilai tanggungjawab moral yang harus ditunaikan. Dalam satu riwayat dikatakan, Nabi Muhammad Saw bersabda, “Kemuliaan umur dan waktu lebih bernilai dibandingkan dengan kemuliaan harta.”
Bahkan, harta bisa memperbudak orang yang mencintainya. Orang yang menjadikan kekayaan harta benda sebagai standar keagungan seseorang akan membenci kematian. Padahal kematian itu adalah pintu pertemuan dengan Allah Swt yang pasti akan diketuk oleh setiap manusia. Bahkan karena cintanya kepada harta ia tidak rela berpisah darinya.
Oleh sebab itu orang-orang berakal mencela dan merendahkan orang yang serakah dalam mengumpulkan harta. Sebaliknya mereka sepakat untuk mengagungkan orang yang bersikap zuhud terhadap harta, tidak mau menumpuk-numpuknya, dan tidak menjadikan dirinya sebagai budak harta. Meski demikian, harta selalu menjadi perburuan demi mendapatkan kemudahan, keberhasilan, kesuksesan, serta mencapai kemuliaan dalam hidup ini.
Di zaman sekarang ini, mengejar kekayaan dan meraih kekuasaan materi, seolah telah menjadi mindset dan orientasi hidup, sehingga seringkali untuk mendapatkannya orang tidak peduli lagi memikirkan cara yang benar atau tidak, layak atau tidak layak dengan status sosial dan kemanusiaannya.
Padahal Allah menjelaskan bahwa amal salih kitalah aset sejati bagi kehidupan di akhirat nanti. Amal shalih pula yang menjadi kendaraan perjalanan jauh kita menuju haribaan-Nya. Setiap perjalanan, lebih-lebih perjalanan jauh dan menentukan, memerlukan kendaraan dan bekal.
Oleh sebab hakikat hidup di dunia adalah sebuah perjalanan jauh menuju alam akhirat dan medan perjuangan meraih kebahagiaan sejati, maka kita harus mampu melintasi segala rintangan yang mungkin terhampar di tengah jalan. Rasulullah Saw mengingatkan, ”Jalan menuju surga itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak diisukai, sedangkan jalan menuju neraka dipenuhi dengan berbagai kenikmatan syahwati.” (HR, Muslim)

Mau Terkenal? Bertanggung Jawab, Bersikaplah Positif, serta jangan menjadi Sombong




Sai’d bin Amir radhiallahu ‘anhu – PEMILIK KEBESARAN DIBALIK KESEDERHANAAN
Ia adalah seorang sahabat Rasullullah yang utama , walaupun namanya tidak seharum nama mereka yang telah terkenal. Ia adalah salah seorang yang takwa dan tak hendak menonjolkan diri!
Mungkin ada baiknya kita kemukakan disini bahwa ia tidak pernah absen dalam semua dalam semua perjuangan dan jihad yang dihadapi Rasullullah saw. Tetapi itu telah menjadi pola dasar kehidupan semua orang Islam.Tidak selayaknya bagi orang yang beriman akan tinggal berpangku tangan dan tidak hendak turut mengambil bagian dalam apa juga yang dilakukanNabi, baik diarena damai maupun di kancah peperangan.
Sa’id menganut Islam tidak lama setelah pembebasan Khaibar. Dan sejak itu ia memelukIslam dan bai’at kepada Rasullullah saw. Seluruh kehidupannya, segala wujud dan cita-citanya dibaktikan kepada keduanya. Maka ketaatan dan kepatuhan, zuhud dan keshalihan, keluhuran dan ketinggian, pendeknya segala sifat dan tabi’at utama, mendapati manusia suci dan baik ini sebagai saudara kandung dan teman yang setia….!
Dan ketika kita berusaha hendak menemui dan menjajagi kebesarannya, hendaklah kita bersikap hati-hati dan waspada, hingga kita tidak terkecoh menyebabkannya lenyap atau lepas dari tangan · · · · Karena sewaktu pandangan kita tertumbuk pada Sa’id dalam kumpulan orang banyak, tidak suatu pun keistimewaan yang akan memikat dan mengundang perhatian kita. Mata kita akan melihat salah seorang anggota regu tentara dengan tubuh berdebu dan berambut yang kusut masai, yang baik pakaian maupun bentuk lahirnya tak sedikit pun bedanya dengan golongan miskin lainnya dari kaum Muslimin.
Seandainya yang kita jadikan ukuran itu pakaian dan rupa lahir, maka takkan kita jumpai petunjuk yang akan menyatakan siapa sebenamya ia.
Kebesaran tokoh ini lebih mendalam dan berurat akar daripada tersembul di permukaan lahir yang kemilau ia jauh tersembunyi di sana, di balik kesederhanaan dan kesahajaannya · · · · Tahukah anda sekalian akan mutiara yang terpendam di perut lokan …?
Nah, keadaannya boleh ditamsilkan dengan itu ….
Ketika Amirul Mu’minin Umar bin Khatthab memecat Mu’awiyah dari jabatannya sebagai kepala daerah di Syria, ia menoleh kiri dan kanan mencari seseorang yang akan menjadi penggantinya. Dan sistim yang digunakan Umar untuk memilih pegawai dan pembantunya, merupakan Suatu sistim yang mengandung segala kewaspadaan, ketelitian dan pemikiran yang matang. Sebabnya ialah karena ia menaruh keyakinan bahwa dilakukan oleh setiap penguasa di tempat setiap kesalahan yang jauh sekali pun, maka yang akan ditanya oleh Allah swt ialah dua orang: pertama Umar .. · , dan kedua baru penguasa yang melakukan kesalahan itu……
Oleh sebab itu syarat-syarat yang dipergunakannya untuk menilai orang dan memilih para pejabat pemerintahan amat berat dan ketat serta didasarkan atas pertimbangan tajam dan sempurna, setajam pengiihatan dan setembus pandangannya ….
Di Syria ketika itu merupakan wilayah yang modern dan besar, sementara kehidupan di sana sebelum datangnya Islam mengikuti peradaban yang silih berganti, di samping ia merupakan pusat perdagangan yang penting dan tempat yang cocok untuk bersenang-senang …, hingga karena itu dan disebabkan hal itu ia merupakan suatu negeri yang penuh godaan dan rangsangan.
Maka menurut pendapat Umar, tidak ada yang cocok untuk negeri itu kecuali seorang suci yang tidak dapat diperdayakan syetan mana pun …,seorang zahid yang gemar beribadat, yang tunduk dan patuh serta melindungkan diri kepada Allah ….
Tiba-tiba Umar berseru, katanya: “Saya telah menemukannya…! Bawa ke sini Sa’id bin ‘Amir…!”
Tak lama antauanya datanglah Sa’id mendapatkan Amirul Mu’minin yang menawarkan jabatan sebagai wall kota Hems. Tetapi Sa’id menyatakan keberatannya, katanya: “Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah, wahai Amirul Mu’minin …!”
Dengan nada keras Umar menjawab: “Tidak, demi Allah saya tak hendak melepaskan anda! Apakah tuan-tuan hendak membebankan amanat dan khilafat di atas pundakku …,lalu tuan-tuan meninggalkan daku …?”
Dalam sekejap saat, Sa’id dapat diyakinkan. Dan memang kata-kata yang diucapkan Umar layak untuk mendapatkan hasil yang diharapkan itu.
Sungguh suatu hal yang tidak adil namanya bila mereka mengalungkan ke lehernya amanat dan jabatan sebagai khalifah, lalu mereka tinggalkan ia sebatang kara ….
Dan seandainya seorang seperti Sa’id bin’Amir menolak untuk memikul tanggung jawab hukum, maka siapa lagi yang akan membantu Umar dalam memikul tanggung jawab yangamat berat itu …?
Demikianlah akhirnya Sa’id berangkat ke Homs. Ikut bersamanya isterinya; dan sebetulnya kedua mereka adalah pengantin baru. Semenjak kecil isterinya adalah seorang wanita yangamat cantik berseri-seri. Mereka dibekali Umar secukupnya….
Ketika kedudukan mereka di Homs telah mantap, sang isteri bermaksud meggunakan haknya sebagai isteri untuk memanfaatkan harta yang telah diberikan Umar sebagai bekal mereka. Diusulkannya kepada suaminya untuk membeli pakaian yang layak dan perlengkapan rumaih.tangga, lalu menyimpan Sisanya.
Jawab Sa’id kepada isterinya: “Maukah kamu saya tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita berada di suatu negeri yang amat pesat perdagangannya dan laris barang jualannya. Maka lebih baik kita serahkan harta ini kepada seseorang yang akan mengambilnya sebagai modal dan akan memperkembangkannya……..!
“Bagaimanajika perdagangannya rugi?” tanya isterinya.
“Saya akan sediakan borg atau jaminan ” ujar Sa’id. “Baiklah kalau begitu” kata isterinya pula. Kemudian Sa’id pergi keluar, lalu membe!i sebagian keperluan hidup dari jenis yang amatbersahaja, dan.sisanya yang tentu masih banyak itu dibagi-bagikannya kepada faqir miskin dan orang-orang membutuhkan.
Hari-hari pun berlalu, dan dari waktu ke waktu isteri Sa’id menanyakan kepada-suaminya soal perdagangan mereka dan bilakah keuntungannya hendak dibagikan. Semua itu dijawab oleh Sa’id bahwa perdagangan mereka berjalan lancar, sedang keuntungan bertambah banyak dan kian meningkat.
Pada suatu hari isterinya memajukan lagi pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui duduk perkara yang sebenamya. Sa’id pun tersenyum lalu.tertawa yang menyebabkan timbulnya keraguan dan kecurigaan sang isteri. Didesaknyalah suaminya agar menceritakannya secara terus terang. Maka disampaikannya bahwa harta itu telah disedeqahkannya dari semula.
Wanita itu pun menangis dan menyesali dirinya karena harta itu tak ada manfaatnya sedikit pun, karena tidak jadi dibelikan untuk keperluan hidup dirinya, dan sekarang tak sedikit pun tinggal sisanya ………
Sa’id memandangi isterinya, sementara air mata penyesalan dan kesedihan telah menambah kecantikan dan kemolekannya. Dan sebelum pandangan yang penuh godaan itu dapat mempengaruhi dirinya, Sa’id menujukan penglihatan bathinnya ke surga, maka tampaklah di sana kawan-kawannya yang telah pergi mendahuluinya, lalu katanya:
“Saya mempunyai kawan-kawan ,yang telah lebih dulu menemui Allah dan saya tak ingin menyimpang dari jalan mereha, walau ditebus dengan dunia dan segala isi nya…!”
Dan karena ia takut akan tergoda oleh kecantikan isterinya itu, maka katanya pula yang seolah-olah dihadapkan kepada dirinya sendiri bersama isterinya:
“Bukanhah hamu tahu bahwa di dalam surga itu banyak terdapat gadisgadis cantih yang bermata jeli, hingga seandainya seorang saja di antara mereha menampahkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang-benderanglah seluruhnya, dan tentulah cahayanya akan mengalahkan sinar matahari dan bulan.. .
Maka mengurbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereha, tentu lebih wajar dan lebih utama daripada mengurbankan mereka demi karena dirimu …! ”
Diakhirinya ucapan itu sebagaimana dimulainya tadi, dalam keadaan tenang dan tenteram, tersenyum simpul dan pasrah …….
Isterinya diam dan maklum bahwa tak ada yang lebih utama baginya daripada mengikuti jalan yang telah ditempuh suaminya, dan mengendalikan diri untuk mencontoh sifat zuhud dan ketakwaannya.
Dewasa itu Homs digambarkan sebagai Kufah kedua. Hal itu disebabkan sering terjadinya pembakangan dan pendurhakaan penduduk terhadap para pembesar yang memegang kekuasaan. Dan karena kota Kufah dianggap sebagai pelopor dalam soal pembakangan ini, maka kota Homs diberi julukan sebagai kota kedua. Tetapi bagaimanapun gemarnya orang-orang Homs ini menetang pemimpin-pemimpin mereka sebagaimana kita sebutkan itu, namun terhadap hamba yang shalih sebagai Sa’id, hati mereka dibukakan Allah, hingga mereka cinta dan taat kepadanya.
Pada suatu hari Umar menyampaikan berita kepada Sa’id:
“Orang-orang Syria mencintaimu .. .!” “Mungkin sebabnya karena saya suka menolong dan membantu mereka”, ujar Sa’id. Hanya bagaimana juga cintanya warga kota Hems terhadap Sa’id, namun adanya keluhan dan pengaduan tak dapat dielakkan …, sekurang-kurangnya untuk membuktikan bahwa Homs masih tetap menjadi saingan berat bagi kota Kufah di Irak …!
Suatu ketika, tatkala Amirul Mu’minin Umar berkunjung ke Homs, ditanyakannya kepada penduduk yang sedang berkumpul lengkap: “Bagaimana pendapat kalian tentang Sa’id .. .?” Sebagian hadirin tampil ke depan mengadukannya. Tetapi rupanya pengaduan itu mengandung berkah, karena dengan demikian terungkaplah dari satu segi kebesaran pribadi tokoh kita ini, kebesaran yang amat menakjubkan serta mengesankan…!
Dari kelompok yang mengadukan itu Umar meminta agar mereka mengemukakan titik-titik kelemahannya satu demi satu. Maka atas nama kelompok tersebut majulah pembicara yang mengatakan:
1.
“Ada empat hal yang hendak kami kemukakan:
2.
Ia baru keluar mendapatkan kami setelah tinggi hari ….
3.
Tak hendak melavani seseorang di waktu malam hari….
4.
Setiap bulan ada dua hari di mana ia tak hendak keluar mendapatkan kami hingga kami tak dapat menemuinya….
5.
Dan ada satu lagi yang sebetulnya bukan merupakan kesalahannya tapi mengganggu kami, yaitu bahwa sewaktu-waktu ia jatuh pingsan .. .”
Umar tunduk sebentar dan berbisik memohon kepada Allah, katanya: “Ya Allah, hamba tahu bahwa ia adalah hamba-Mu terbaik, maka hamba harap firasat hamba terhadap dirinya tidak meleset.
Lalu Said dipersilahkan untuk membela dirinya, ia berkata:
“Mengnai tuduhan mereka bahwa saya tak hendak keluar sebelum tinggi hari, maka demi Allah, sebetulnya saya tak hendak menyebutkannya, …..Keluarga kami tak punya khadam atau pelayan, maka sayalah yang mengaduk tepung dan membiarkannya sampai mengeram, lalu saya membuat roti dan kemudian wudhu untuk shalat dhuha. Setelah itu barulah saya keluar untuk mendapatkan mereka….!”
Wajah Umar bersei-seri, dan katanya: “Alhamdulillah……, dan mengenai yang kedua?”
Maka Sa’id pun melanjutkan pembicaraannya:
“Adapun tuduhan mereka bahwa saya tidak mau melayanai mereka diwaktu malam…maka demi Allah saya benci menyebutkan penyebabnya…..! Saya telah menyediakan siang hari bagi mereka, dan malam hari bagi Allah Ta’ala…..! sedang ucapan mereka bahwa dua hari setiap bulan dimana saya tidak menemui mereka….., maka sebabnya sebagaimana saya katakan tadi, saya tidak mempunyai khadam untuk mencuci pakaian, sedangkan pakaianku tidaklah banya untuk dipergantikan. Jadi terpaksalah saya mencucinya dan menunggunya sampai kering, hingga baru dapat keluar diwaktu petang……
Kemudian tentang keluhan mereka bahwa saya sewaktu-waktu jatuh pingsan…. Karena ketika di Mekkah dulu saya telah menyaksikan jatuh tersungkurnya Khubaib al-Anshari. Dagingnya dipotong-potong oleh orang Quraisy dan mereka bawa ia dengan tandu sambil mereka menanyakan kepadanya: “Maukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu berada dalam keadaan sehat wal’afiat…? Jawab Khubaib: Demi Allah saya tak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi oleh kesenangan dan keselamatan dunia, sementara Rasullullah ditimpa bencana, walau hanya oleh tusukan duri sekalipun….!”
Maka setiap terkenang akan peristiwa yang saya saksikan itu, dan ketika itu saya masih dalam keadaan musyrik, lalu teringat bahwa saya berpangku tangan dan tak hendak mengulurkan pertolongan kepada Khubaib, tubuh saya pun gemetar karena takut akan siksa.Allah, hingga ditimpa penyakit yang mereka katakan itu…..”
Sampai di sana berakhirlah kata-kata Sa’id, ia membiarkan kedua bibirnya basah oleh air mata yang suci, mengalir dari Jiwanya yang shalih ……..
Mendengar itu Umar tak dapat lagi menahan diri dan rasa harunya, maka berseru karena amat gembira: “Alhamdulillah, karena dengan taufiq-Nya firasatku tidak meleset adanya….!”
Lalu dirangkul dan dipeluknya Sa’id, serta diciumlah keningnya yang mulia dan bersinar cahaya · · · .
******
Nah, petunjuk macam apakah yang telah diperoleh makhluq seperti ini … ?
Guru dari kaliber manakah Rasulullah saw. Itu …..?
Dan sinar tembus seperti apakah Kitabullah itu……?
Corak sekolah yang telah memberikan bimbingan dan meniupkan inspirasi manakah Agama islam ini ?
Tetapi mungkinkah bumi dapat memikul di atas punggungnya jumlah yang cukup banyak dari tokoh-tokoh berkwalitas demikian?
Sekiranya mungkin, tentulah ia tidak disebut bumi atau dunia lagi …,lebih tepat bila dikatakan Surga Firdausi ……
Sungguh, ia telah menjadi Firdaus yang telah dijanjikan Allah!
Dan karena Firdaus itu belum tiba waktunya, maka orang-orang yang lewat di muka bumi dan tampil di arena kehidupan dari tingkat tinggi dan mulia seperti ini amat sedikit dan jarang adanya. Dan Sa’id bin ‘Amir adalah salah seorang di antara mereka ….
Uang tunjangan dan gaji yang diperolehnya banyak sekali, sesuai dengan kerja dan jabatannya, tetapi yang diambilnya hanyalah sekedar keperluan diri dan isterinya, sedang selebihnya dibagi-bagikan kepada rumah-rumah dan keluarga-keluarga lain yang membutuhkannya.
Suatu ketika ada yang menasihatkan kepadanya: Berikanlah kelebihan harta ini untuk melapangkan keluarga dan famili isteri anda! Maka ujarnya: “Kenapa keluarga dan ipar besanku saja yang harus lebih kuperhatikan.. .? Demi Allah, tidak! Saya tak hendak menjual keridlaan Allah dengan kaum kerabatku. ..!”
Memang telah lama dianjurkan orang kepadanya: “Janganlah ditahan-tahan nafkah untuk diri pribadi dan keluarga anda, dan ambillah kesempatan untuk meni’mati hidup!”
Tetapi jawaban yang keluar hanyalah kata-kata yang senantiasa diulang-ulangnya: “Saya tak hendak ketinggalan dari rombongan pertama, yakni setelah saya dengar Rasulullah saw.. bersabda:
“Allah ‘Azza wa Jalla akan menghimpun manusia untuk dihadaphan ke pengadilan. Maha datanglah orang-orang miskin yang beriman, berdesak-desakan maju ke depan tak ubahnya bagai kawanan burung merpati. Lalu ada yang berseru kepada mereka: Berhentilah kalian untuk menghadapi perhitungan! Ujar mereka: Kami tah punya apa-apa untuh dihisab. Maka Allah pun berfirman: Benarlah hamba-hamba-Ku itu …! Lalu masuklah mereka ke dalam surga Sebelum orang-orang lain masuk …. “.
Dan pada tahun 20 Hijriyah dengan lembaran yang paling bersih, dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang paling cemerlang. Sa’id bin Amir pun menemui Allah….
Telah lama sekali rindunya terpendam untuk menyusul rombongan perintis, yang hidupnya telah dinazarkannya untuk memelihara janji dan mengikuti langkah mereka.
Sungguh, rindunya telah tiada terkira untuk dapat menjumpai Rasul yang menjadi gurunya, serta teman sejawatnya yang shalih dan suci Maka sekarang ia akan menemui mereka dengan hati tenang, jiwa yang tenteram dan beban yang ringan ….
Yang tak ada beserta atau di belakangnva beban dunia atau harta benda yang akan memberati punggung atau menekan bahunya….
Tak ada yang dibawanva kecuali zuhud, keshalihan dan ketaqwaannya serta kebenaran jiwa dan budi baiknya . · · ·
Semua itu adalah keutamaan yang akan memberatkan daun timbangan, dan sekali-kali takkan memberatkan beban pikulan….!
Keistimewaan ,tersebut dipergunakan oleh pemiliknya untuk menggoncang dunia, dan dijadikan pegangan yang kokoh sehingga tak tergoyahkan oleh tipu daya dunia……!
Selamat bahagia bagi Sa ‘id bin ‘Amir….!
Selamat baginya, baih selagi hidup maupun setelah wafatnya……!
Selamat, sekali lagi selamat, terhadap riwayat dan kenang-kenangannya.
Serta selamat bahagia pula bagi para sahabat Rasulullah yakni orang-orang mulia dan gemar beramal serta rajin beribadat…!
Sai’d bin Amir radhiallahu ‘anhu – PEMILIK KEBESARAN DIBALIK KESEDERHANAAN

Kamis, 06 Oktober 2011

NEGARA KITA BUTUH PEMIMPIN YANG ADIL DAN BIJAKSANA.WHAT DO YOU MIND?



Banyak sebenarnya yg tidak tahu dimanakah negara terkaya di planet bumi ini, ada yang mengatakan Amerika, ada juga yang mengatakan negera di timur tengah. Tidak salah sebenarnya contohnya amerika, negara super power itu memiliki tingkat kemajuan teknologi yg hanya bisa disaingi segelintir negara, contoh lain lagi adalah negara-negara di timur tengah. Rata2 negara yang tertutup gurun pasir dan cuaca yang menyengat itu mengandung jutaan barrel minyak yg siap untuk diolah, tp itu semua belum cukup untuk menyamai negara yang satu ini. Bahkan Amerika dan negara-negara timur tengah serta Uni Eropa-pun tak mampu menyamainya. Dan negara terkaya tersebut adalah Indonesia.
         Seperti yang kita ketahui Indonesia memiliki banyak kebudayaan dan kekayaan alam yang berlimpah. Tapi sygnya banyak dari kita yg belum sadar akan kekayaan negaranya sendiri, sehingga banyak perusahaan asing yang mengambil alih kekayaan alam negara kita ini. Baiklah mari kita urai semuanya satu persatu sehingga kita bisa melihat kekayaan negara ini sesungguhnya.

1. Negara ini punya pertambangan emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia, namanya PT Freeport.

Pertambangan ini telah mengasilkan 7,3 JUTA ton tembaga dan 724,7 JUTA ton emas. saya mencoba meng-Uangkan jumlah tersebut dengan harga per gram emas sekarang, saya anggap Rp. 300.000. dikali 724,7 JUTA ton emas/ 724.700.000.000.000 Gram dikali Rp 300.000. = Rp.217.410.000.000.000.000.000 Rupiah!!!!! ada yang bisa bantu saya cara baca nilai tersebut?. Itu hanya emas belum lagi tembaga serta bahan mineral lain-nya. Lalu siapa yang mengelola pertambangan ini?, bukan negara ini tapi AMERIKA! prosentasenya adalah 1% untuk negara pemilik tanah dan 99% untuk amerika sebagai negara yang memiliki teknologi untuk melakukan pertambangan disana. Bahkan, ketika emas dan tembaga disana mulai menipis ternyata dibawah lapisan emas dan tembaga tepatnya di kedalaman 400 meter ditemukan kandungan mineral yang harganya 100 kali lebih mahal dari pada emas, ya.. dialah URANIUM! bahan baku pembuatan bahan bakar nuklir itu ditemukan disana. Belum jelas jumlah kandungan uranium yang ditemukan disana, tapi kabar terakhir yang beredar menurut para ahli kandungan uranium disana cukup untuk membuat pembangkit listrik Nuklir dengan tenaga yang dapat menerangi seluruh bumi hanya dengan kandungan uranium disana. Freeport banyak berjasa bagi segelintir pejabat negeri ini, para jenderal dan juga para politisi busuk, yang bisa menikmati hidup dengan bergelimang harta dengan memiskinkan bangsa ini. Mereka ini tidak lebih baik daripada seekor lintah!.

2. Negara ini punya cadangan gas alam TERBESAR DI DUNIA! tepatnya di Blok Natuna.

Berapa kandungan gas di blok natuna?. Blok Natuna D Alpha memiliki cadangan gas hingga 202 TRILIUN kaki kubik!! dan masih banyak Blok-Blok penghasil tambang dan minyak seperti Blok Cepu dll. DIKELOLA SIAPA? Exxon Mobil perusahaan yang bermarkas di Texas dan di dirikan pada tanggal 30 November 1999, dibantu sama Pertamina.

3. Negara ini punya Hutan Tropis terbesar di dunia. Hutan tropis ini memiliki luas 39.549.447 Hektar, dengan keanekaragaman hayati dan plasmanutfah terlengkap di dunia

Letaknya di pulau sumatra, kalimantan dan sulawesi. Sebenarnya jika negara ini menginginkan kiamat sangat mudah saja buat mereka. Tebang saja semua pohon di hutan itu makan bumi pasti kiamat. Karena bumi ini sangat tergantung sekali dengan hutan tropis ini untuk menjaga keseimbangan iklim, karena hutan hujan amazon tak cukup kuat untuk menyeimbangkan iklim bumi. Dan sekarang mereka sedikit demi sedikit telah mengkancurkanya hanya untuk segelintir orang yang punya uang untuk perkebunan dan lapangan Golf. Sungguh sangat ironis sekali.

4. Negara ini punya Lautan terluas di dunia. Dikelilingi dua samudra, yaitu Pasific dan Hindia hingga tidak heran memiliki jutaan spesies biota laut yang tidak dimiliki negara lain.
Saking kaya-nya laut negara ini sampai-sampai negara lain pun ikut memanen ikan di lautan negara ini.

5. Negara ini punya jumlah penduduk terbesar ke 4 didunia.

Dengan jumlah penduduk segitu harusnya banyak orang-orang pintar yang telah dihasilkan negara ini, tapi pemerintah menelantarkan mereka-mereka. Sebagai sifat manusia yang ingin bertahan hidup tentu saja mereka ingin di hargai. Jalan lainya adalah keluar dari negara ini dan memilih membela negara lain yang bisa menganggap mereka dengan nilai yang pantas.

6. Negara ini memiliki tanah yang sangat subur. Karena memiliki banyak gunung berapi yang aktif menjadikan tanah di negara ini sangat subur terlebih lagi negara ini dilintasi garis katulistiwa yang banyak terdapat sinar matahari dan hujan.

Jika dibandingkan dengan negara-negara timur tengah yang memiliki minyak yang sangat melimpah, negara ini tentu saja jauh lebih kaya. Coba kita semua bayangkan karena hasil mineral itu tak bisa diperbaharui dengan cepat. Dan ketika seluruh minyak mereka telah habis maka mereka akan menjadi negara yang miskin karena mereka tidak memiliki tanah sesubur negara ini yang bisa ditanami apapun juga. Bahkan tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

7. Negara ini punya pemandangan yang sangat eksotis dan lagi-lagi tak ada negara yang bisa menyamainya. Dari puncak gunung hingga ke dasar laut bisa kita temui di negara ini.

8. Negara ini mempunyai Timnas Sepakbola yang Hebat!

Jika Allah mencintai seorang hamba maka Dia akan memberikan cobaan pada hamba itu




Dalam kehidupan ini, tiap manusia akan mengalami pengalaman dan perasaan bahagia, dan juga perasaan dan pengalaman yang menyedihkan. Kebahagiaan dan kesedihan akan selalu hadir silih berganti dalam kehidupan manusia selama manusia itu hidup.

Allah telah menciptakan dunia ini penuh dengan ujian dan cobaan untuk menguji tingkat ketakwaan hamba-hambanya.

Seperti yang telah difirmankan oleh Allah dalam Surat
Al-Baqarah (2) : 214
مْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ

2.214. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Allah akan memberikan ujian dan cobaan bagi tiap hambanya dengan malapetaka dan kesengsaraan. Apakah setelah ditimpa musibah dan kesengsaraan itu hamba tersebut tetap berlindung dan meminta pertolongan Allah atau dia berpaling pada yang lain.

jadi ga peduli yang beriman dan beramal sholeh maupun yang kafir,maksiat dan ugal-ugalan, semua akan kebagian malapetaka dan kesengsaraan selama hidup di dunia.

Cobaan yang dimaksud pada ayat diatas adalah takdir dari Allah yang dimaksudkan untuk menguji tingkat ketakwaan hamba-Nya.

Jika setelah diuji dengan cobaan hamba tersebut malah berpaling dan melakukan maksiat / hal tercela lainnya yang menimbulkan dosa, maka perbuatan hamba tersebut akan mengakibatkan ditambahnya musibah yang menimpa pada hamba tersebut.

Seperti yang telah difirmankan oleh Allah dalam Surat
Ash-Shura (42) : 30
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

42.30. Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Jadi jika kita ditimpa suatu kejadian yang tidak kita inginkan, hendaklah kita berinstrospeksi diri. Karena bisa jadi itu berupa musibah yang datang disebabkan karena kesalahan2 kita. Dan juga sabar dalam menjalaninya karena bisa jadi kejadian tsb merupakan cobaan dari Allah untuk menguji tingkat ketakwaan kita.

Satu hal yang harus kita garis bawahi, yaitu bahwa semua musibah itu hanya bisa datang pada kita jika Allah mengizinkan. Jadi jika suatu musibah telah menimpa kita, maka berarti Allah telah mengizinkan musibah itu untuk menimpa kita.

Hal ini telah difirmankan oleh Allah dalam Surat
At-Taghabun (64) : 11
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

64.11. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Karena segala cobaan dan musibah pasti datang dan terjadi atas izin Allah maka hendaklah kita tetap beriman dan berlindung kepada Allah jika musibah / cobaan itu terjadi, Serta bersabar dalam menghadapi dan menjalaninya.

Perintah untuk bersabar itu telah difirmankan ole Allah dalam Surat
Al-Baqarah (2) : 155
لَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

2.155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

Dari ayat diatas dapat diketahui bahwa Allah akan memberikan cobaan kepada kita dengan sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta, jiwa dan buah buahan.

Semua cobaan tersebut adalah untuk menguji tingkat ketakwaan kita. Apakah kita sabar dan tawakal dalam menghadapinya, ataukah kita berpaling dan menjauh dari Allah.

Dalam Ayat tsb Allah berfirman untuk memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.

Siapakah Orang2 yang sabar ini?

Pada Ayat berikutnya Allah berfirman
Al-Baqarah (2) : 156
ِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ

2.156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun" .

Yaitu orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan "Semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah".

Selain itu Allah juga memberikan cobaan berupa harta dan anak, kepada hambanya.

Hal ini telah difirmankan oleh Allah dalam Surat
Al-Anfal (8) : 28
اعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ 
8.28. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

hal ini juga dimaksudkan untuk menguji tingkat ketakwaan hamba-Nya ketika dia berada dalam kelapangan harta dan memiliki anak2 yang mereka banggakan. Apakah mereka menjadi hamba yang bersyukur, ataukah mereka berubah menjadi orang yang takabur / sombong.


Jika Allah mencintai seorang hamba maka Dia akan memberikan cobaan pada hamba itu“. Itulah kalimat Nabi yang selalu saya ingat apabila ingat pada musibah yang terjadi pada saya. 
“Jika Allah mencintai seorang hamba maka Dia akan memberikan cobaan pada hamba itu“. Mudah-mudahan saya akan termasuk di dalamnya ya. He he he. Doanya. Bukankah Allah tidak akan menimpakan cobaan pada seseorang hamba di luar batas kemampuannya? Ya ini yang bisa membesarkan hati saya. membuat saya lapang dada menerima cobaan dan ujian dari Allah. Lama memang kejadiannya. Tapi bekasnya seakan tidak mau menghilang dari hati saya. Inilah cobaan yang harus saya hadapi. Perjalanan hidup memang tidak bisa datar terus pasti akan menemui jurang yang terjal. Hidup tidak terus berada di atas, pasti suatu saat kita akan dibawah. Berputar seperti roda. Perjalanan di dalam kehidupan pasti akan selalu melalui rintangan dan hambatan. Itulah cobaan dan ujian.

Cobaan dan ujian adalah bagian dari hidup. Dan kita harus berbesar hati untuk menghadapinya. Justru kekuatan manusia dalam menghadapi hidup adalah apabila berhasil menghadapi tantangan sebesar apapun tantangan itu. Sebagai manusia yang sedikit tahu ilmu agama, alhamdulillah saya bisa sadar  dan paham. Bahwa hidup harus kita hadapi. Hidup harus berjalan ke depan. Maju wajib sedangkan mundur tidak mungkin. Yang di belakang adalah masa lalu. Yang akan datang harus kita hadapi. Mudah-mudahan apa yang akan kita hadapi, dengan cobaan ini, akan semakin mantap menemukan solusi terbaik menjawab berbagai cobaaan tantangan. Harus saya sadari bahwa ujian adalah pupuk organik yang memberikan makanan bergizi bagi perjalanan kita.
Ya Allah, hanya kepadaMu saya berserah diri. Ampunilah saya. Berikan hamba kesabaran, ketabahan dan ketegaran menghadapi ujian yang Engkau berikan. Tiada tempat saya mengadukan kata-kata sedih, kata-kata duka, kata-kata apapun kecuali hanya kuserahkan kepadaMu. Mohon ridhoMu ya Allah. Amien