Arsip Blog

Kamis, 29 September 2011

DUNIA HANYA SEMENTARA, HARTA DAN KESOMBONGAN BUKANLAH SEGALANYA



الْحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الخَلاَّقِ. اَلْوَلِىِّ فَلاَ وَلِيَّ مِنْ دُوْنِهِ وَلاَ وَاقٍ. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَلَهُ مَالِكِيَّةُ الْحَمْدِ وَاْلإِسْتِحْقَاقِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى إِحْسَانِهِ الَّذِى لاَ يُعَدُّ وَلاَ يُطاَقُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلاَضِدَّ وَلاَنِدَّ وَلاَمُنَازِعَ وَلاَمُشَاقَّ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخَلِيْلُهُ أَشْرَفُ الْخَلْقِ عَلَى الإِطْلاَقِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْبَرَرَةِ السُّبَّاقَ، إِلَى الإِيْمَانِ وَالْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ وَالإِنْفَاقِ.
(أَمَّا بَعْدُ) فَيآ أَيُّهَا النَّاسُ : اتّقَوُا اللهَ تَعَالَى عِبَادَ اللهِ يَجِبُ عَلَيْنَا السَّعْيُ وَاْلإِكْتِسَابُ، وَاْلأَخْذُ عَلَى التَّيَقُّظِ فِي اْلأَسْبَابِ وَالتَّأَنِّي مُنْتَظِرًا لِفَضْلِ اللهِ رَبِّ اْلأَرْبَابِ، ثُمَّ الصَّرْفُ بِثَمْرَتِهَا زَادًا لِلْمَآبِ.
Para hadirin ahli Jum’ah Rohimakumullôh……
Marilah kita mantapkan pengabdian kita kepada Alloh dengan senantiasa membudayakan rasa taqwa di setiap kesempatan, baik ketika susah maupun gembira, ketika sepi maupun ramai. Dan marilah kita merenungi sejenak kehidupan ini. Pada hakikatnya, masa hidup di dunia sangat-lah pendek bila dibanding dengan kehidupan akhirat yang tak mengenal akhir. Bila kita angan-angan lebih dalam lagi, akan dapat menyimpulkan bahwa sedetik dari masa kehidupan dunia merupakan perbandingan dari ratusan tahun masa akhirat kelak. Maka jangan sia-siakan detik-detik di dunia, karena kelak nanti pasti akan dipertanggung jawabkan dihadapan Alloh serta akan menerima balasan setimpal. Melihat dari perbandingan tadi, Nabi SAW memperingatkan manusia dengan bersabda demikian :
كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرِ سَبِيْلٍ
Artinya : “Posisikanlah dirimu di dunia ini seperti halnya orang yang mengembara atau orang yang melintasi jalan”.
Baginda Nabi SAW mengibaratkan kehidupan dunia dengan bepergian atau melintasi jalan, artinya seberapa lama-pun masa mengembara atau berada diperjalanan, pasti akan kembali ke rumahnya, serta pasti akan jauh lebih lama tinggal di rumah asalnya. Demikian-lah perumpamaan dunia sebagai jembatan untuk melintas ke akhirat.
Sungguh benar ungkapan orang jawa bahwa “Hidup di dunia ibarat bersinggah untuk minum“. Marilah kita bersungguh-sungguh dalam menggalang bekal untuk kehidupan akhirat. Jangan sampai kita pergi ke akhirat dengan perbekalan yang serba kurang, apalagi sampai tak berbekal sama sekali, sebab di kehidupan abadi nanti tak mengenal mengemis, memohon belas kasihan orang lain sebagaimana di dunia. Seluruh manusia tersibukkan dengan urusannya sendiri-sendiri, yaitu mempertanggung-jawabkan segala tingkah lakunya saat di dunia kepada SangKholiq.
Hadirin, kaum muslimin Rohimakumullôh……
Segala materi serta pernik-pernik kehidupan ini tidak lain hanyalah sebagai penghias hidup yang pasti akan segera sirna, juga sebagai cobaan dan ujian yang harus dipertanggung jawabkan kelak di akhirat. Alloh ta’ala berfirman :
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلاً (الكهف : 46)
Artinya : “Harta benda dan anak merupakan perhiasan hidup di dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi adalah lebih baik pahalanya di sisi tuhanmu serta lebih baiknya harapan”.
Maksud dari amal-amal soleh yang balasannya dapat dinikmati selama-lamanya yaitu sholat, puasa, haji, shodaqoh dan seluruh kewajiban dan kesunatan yang pelaksanaannya semata-mata mengharapkan rido Alloh. Sedangkan harta benda dan anak yang senantiasa kita cintai dan kita banggakan akan ditinggal mati, bahkan justru dapat menjadi bumerang bagi kita, sebagaimana harta warisan yang dibelanjakan untuk kemaksiatan, atau menjadi sumber perpecahan keluarga karena ditengarai oleh pembagian harta warisan itu sendiri. Juga sebagaimana anak yang bertingkah laku tak terpuji menurut masyarakat atau agama.
Saudara-saudara muslim yang berbahagia…..
Orang yang merasa bahwa standar dari segala sesuatu adalah harta dunia, seakan-akan ia lalai akan adanya pertanggung-jawaban serta kehidupan abadi kelak di akhirat, niscaya baginya tak akan ada waktu istirahat dari kesibukan duniawi meskipun hanya untuk sekedar menikmati keindahan maha karya Alloh atau menikmati hasil kerja kerasnya. Dalam salah satu hadits disebutkan :
قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْياَ أَكْبَرُ هَمِّهِ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ، وَأَلْزَمَ اللهُ قَلْبَهُ أَرْبَعَ خِصَالٍ: هَمًّا لاَ يَنْقَطِعُ عَنْهُ أَبَداً، وَشُغْلاً لاَ يَتَفَرَّغُ مِنْهُ أَبَداً، وَفَقْراً لاَ يَبْلُغُ غِنَاهُ أبداً، وَأَمَلاً لاَ يَبْلُغُ مُنْتَهَاهُ أَبَداً [1]
Artinya : Nabi SAW bersabda : “Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan yang paling utama, niscaya baginya tak mendapatkan apa-pun dari Alloh, dan Alloh akan menetapkan hatinya dengan empat hal, pertama : Kesusahan yang tiada habisnya, kedua : Kesibukan yang tiada hentinya, ketiga : Fakir (merasa kekurangan) yang tak akan pernah merasakan cukup, keempat : Angan-angan yang tak akan tercapai selama-lamanya”.
Saudara-saudara muslim yang berbahagia…..
Memang telah menjadi tabi’at mayoritas manusia bila senantiasa menumpuk harta serta selalu merasa kurang. Contoh saja bila seseorang dianugrahi sebuah mobil yang telah lama dia impi-impikan, niscaya ia menginginkan satu mobil lagi, dan begitu seterusnya. Padahal sering kali kesibukkan dunia melalaikan Alloh. Hal ini sesuai dengan firman Alloh :
أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ، حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ  (التكاثر : 1، 2)
Artinya : “Bermegah-megahan (dalam harta, pangkat atau sejenisnya) telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke liang kubur”.
Bukan jaminan kalau banyaknya harta dunia layak disebut orang kaya dan kehidupannya tentram serta bahagia, sebab kekayaan dan kebahagiaan haqiqi hanya bisa terwujud dengan keikhlasan hati dalam menerima qodo’ dan qodar dari Alloh ta’ala.
اَلْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
Artinya : “Kaya yang sebenarnya adalah kebesaran jiwa”.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرآنِ العَظِيْمِِ، وَنَفَعَنَا وَإِيَّاكُمْ بِالآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، إِنَّهُ تَعَالَى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ، مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ﴿ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ اْلآَخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ، أَفَلاَ تَعْقِلُونَ ﴾.  وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Selasa, 27 September 2011

Bersyukur Atas Apa yang Kita Miliki

Saya menulis ini terinspirasi dari seseorang yang baru saya lihat ketika saya makan siang tadi, ketika saya melihat orang itu mulut saya langsung mengucapkan astafirullohul’aziim Y ALLAH  masih kau beri kesempatan buat dia meraih sesuatu, dengan menggunakan tongkat yang tertatih-tatih dan tangan kiri dia bengkok tapi dia masih semangat bertemu dengan klien-kliennya dan dia merasa bukan orang cacat dia sangat percaya diri  sekali, ucapan yang keluar dari mulutnya sangat santun dan berwibawa sekali…
Kadang kala kita lupa bersyukur apa yang telah diberikan ALLAH SWT kepada diri kita sendiri bahkan merasa masih banyak manusia yang merasa kekurangan atas diri sendiri, padahal ALLAH telah menciptakan menusia sesempurna mungkin dan manusia lah makhluk yang paling sempurna dimuka bumi ini.
Syukurilah apa yang telah diberikan oleh ALLAH SWT, rawat dan peliharalah titipan yang telah diberikan, semoga kita menjadi orang yang sering bersyukur  ALLAH itu maha adil terhadap hambanya, tapi kenapa Manusia sering mengabaikannya.
Betapa beruntungnya kita sebagai manusia bisa melihat bumi ini dengan kedua mata bisa membaca kompasiana dan tulisan teman-teman disini, bisa merasakan enaknya makanan yang dimakan, bisa mendengar musik yang kita sukai, bisa berbicara dengan siapa pun yang kita inginkan, tangan bisa memegang handphone bisa mengentik dilaptop, bisa menulis dan melukis.
Rambut panjang nan indah tapi kenapa mesti direbonding, dicat dan dicatok kenapa tidak PEDE memakai mahkota itu sendiri. Dengan kaki yang sempurna bisa berjalan kemana saja yang kita inginkan tapi alangkah baiknya jika kaki kita dilangkahkan ketempat yang baik dan pergi kemesjid dan menyantuni panti asuhan.
Di saat yang sama seseorang berharap..
Tuhan, kenapa kau tidak berikan aku sepasang mata untuk melihat…
Di saat yang sama seseorang bersyukur…
Tuhan, kau hanya berikan aku 4 jari, namun aku mensyukurinya. ..
Di saat yang sama seseorang menangis..
Tuhan, kenapa aku diberikan kepala dengan ukuran yang berbeda…Kalau seperti ini, rambut seperti apapun akan terlihat aneh…
Di saat yang sama seseorang bersyukur…
Tuhan, kau tak memberikan aku tangan dan kaki..namun aku bahagia aku masih bisa berkarya…
Sesungguhnya tubuh kita adalah hal yang berharga
Tak peduli apapun warnanya, apapun ukurannya, apapun bentuknya…
Syukurilah itu kawan…Karena di luar sana masih banyak yang mengharapkan mendapat fisik yang lengkap…
Kau lah ciptaan Tuhan yang terbaik…
Kau yang tampan…
Kau yang cantik…
Syukurilah itu…walaupun itu hanya sementara…
Kawan dengarlah… jutaan orang di luar sana…
Berharap bisa melihat…
Berharap bisa mendengar…
dan berharap bisa berbicara… .
Seperti kita….
Kau tak pernah mengerti…Dan tak kan pernah mengerti…
Sadarlah kawan…Bahwa sesungguhnya kau tidak kekurangan….
So buat teman-teman semua alangkah beruntungnya kita hidup diantara jutaan manusia yang hidup dimuka bumi ini, sudah sepatutnya kita mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada ALLAH SWT sang pencipta. Apakah masih mengabaikanNYA.

Senin, 26 September 2011

"Penyakit Jiwa" Para Pejabat = Lupa Ingatan


Oleh : Dr.Andri, SpKJ * Belakangan ini, menonton berita di televisi apalagi terkait dengan pemberitaan pejabat di bumi tercinta ini sering kali membuat kening berkerut. Betapa mudahnya beberapa pejabat mengatakan "lupa" ketika diperiksa baik di KPK maupun di persidangan.
Belum lama ini, seorang menteri mengatakan lupa saat diperiksa sebagai saksi di pengadilan berurusan dengan kasus korupsi. Lalu beberapa hari kemudian seorang ketua partai besar juga tidak mengakui apa yang pernah dikatakan oleh sang bendahara tentang keterlibatannya dalam suatu perusahaan dan proyek yang ternyata merugikan negara.
Sayangnya, sebenarnya beberapa bukti yang terpampang jelas merujuk pada keterlibatan mereka dalam proses kejadian yang saat ini mereka sangkal dan mengatakan lupa.   Lupa ingatan itu sakit jiwa
Sebagai seorang psikiater saya akrab dengan pasien-pasien yang lupa ingatan karena penyakit jiwa yang dinamakan Demensia. Paling sering yang datang ke tempat praktek saya adalah Demensia Alzheimer.
Demensia Alzheimer adalah salah satu jenis demensia yang ditandai dengan penurunan secara nyata dari fungsi memori (kesulitan dalam belajar informasi baru dan memanggil informasi yang dipelajari sebelumnya) dan salah satu dari fungsi intelektual (gangguan bahasa, gangguan melakukan aktifitas motorik, kesulitan dalam mengenal benda, gangguan dalam fungsi eksekutif seperti merencanakan, mengorganisasi, pengabtrakan dan merangkai tindakan).
Keadaan ini menggangu fungsi pribadi dan sosial individu itu. Demensia Alzheimer hanya merupakan salah satu dari jenis demensia, namun angka kejadiannya paling tinggi (lebih dari 50 persen kasus demensia adalah demensia Alzheimer) Biasanya demensia atau dikenal dengan penyakit pikun ini diderita oleh pasien yang berusia 60 tahun ke atas walaupun karena beberapa sebab seperti serangan stroke, trauma kepala berat dan kencing manis yang tidak terkontrol, pasien bisa mengalami gejala-gejala demensia pada usia yang lebih dini. Gejala awal yang paling sering dialami oleh pasien yang mengalami demensia adalah LUPA.
Selective Dementia
Lalu apakah yang terjadi pada para pejabat yang sering kali lupa ingatan akan peristiwan terkait tindak korupsi ini bisa dinamakan demensia? Rasanya hal itu memerlukan pemeriksaan yang lebih jauh. Hanya saja, secara gamblang kita melihat bahwa apa yang dialami oleh para pejabat ini sepertinya hanya lupa hal-hal tertentu saja bukan lupa semuanya.
Seorang pasien yang mengalami demensia apalagi tipe Alzheimer daya pikirnya semakin lama semakin menurun. Pasien sering bahkan sudah mulai lupa tempat tinggalnya di mana atau merasa tempat tinggalnya saat ini bukan rumahnya. Pasien juga bisa lupa dengan anggota keluarganya bahkan anak-anaknya sendiri.
Jika melihat dari usia, para pejabat ini tentunya belum termasuk golongan manusia di atas 60 tahun. Lalu, jika dilihat dari riwayat kesehatan walaupun tentunya tidak pernah dikatakan ke publik, rasanya pejabat-pejabat ini tidak pernah mengalami peristiwa sakit yang berat seperti trauma kepala berat, serangan stroke berdarah yang membuat koma dalam jangka waktu tertentu atau keracunan zat yang membuat otak menjadi rusak. Artinya secara sepintas dengan mata awam kita melihat pejabat-pejabat ini baik-baik saja kesehatannya.   Malingering
Lalu, kalau demikian apakah masih bisa dipercaya yang dikatakan para pejabat itu bahwa dirinya lupa? Tentunya, ini merupakan tugas dari para penegak hukum untuk membuktikan apakah benar-benar lupa atau sebaliknya hanya pura-pura lupa. Proses pemeriksaan dan sampai persidangan nanti tentunya diharapkan ada suatu proses yang transparan, jujur, adil dan memperhatikan fakta-fakta yang ada.
Orang bisa seribu kali bilang lupa, tetapi kalau fakta berkata lain maka apa yang dikatakannya bisa gugur malah bisa disebut berbohong.
Bicara tentang gangguan jiwa yang seringkali diungkapkan oleh para orang-orang yang terkena atau terlibat kasus-kasus hukum, saya jadi ingat ada suatu terminologi dalam ilmu kedokteran jiwa yang disebut Malingering.
Ini merupakan suatu ”gangguan jiwa pura-pura” di mana seseorang berusaha menampilkan dirinya dengan gejala-gejala gangguan jiwa agar terhindar dari proses hukum atau pengadilan. Malingering memang bukan diagnosis gangguan jiwa, tapi memang sepertinya banyak dialami oleh para maling.   Salam Sehat Jiwa  
* Psikiater, Pengamat Kesehatan Jiwa
Semoga tulisan saya bisa bermanfaat untuk para Pembaca....Terima Kasih

By : Neny Resty Nigianti

Minggu, 25 September 2011

Membuka Mata Untuk Sebuah Kenyataan......



Semilir hujan yang kian menderas
Aku tersadar dengan kejadian yang mengenaskan ini
tentang aku. ..
Dimana aku teLah menangis lelah

Tiada guna bagiku dengan segala kepahitan itu
Suatu omong Kosong jika ku hanya berdiam
Menetap dengan kekosongan abadi
Dan terus meneteskan air mata kebodohan

Disini aku memahami dimana posisiku berada
Disuatu sudut kesulitan aku mengerti
Apakah Arti dari Sebuah Kenyataan ini
yang harus ku hapuskan dengan caraku sendiri

Dan aku telah belajar banyak pada kesedihan
Disaat aku akan tetap tertawa di dalam kepedihan
Dan ciptakan sinar tentram
Agar hidupku tak pernah menjadi kelam

Kamis, 22 September 2011

AIR MATA SEORANG IBU


Saya ingat waktu saya masih kecil, waktu itu saya masih berumur kira-kira 8 tahun, lalu pada saat itu saya ingat saya bertanya kepada ibu saya.
"Ibu, mengapa ibu menangis?"
Ibu pun menjawab, "Sebab ibu wanita."

Saya waktu itu masih tidak mengerti.
Ibu saya hanya tersenyum dan memeluk saya dengan erat.
"Nak, kamu memang tidak akan mengerti..."



Kemudian, saya bertanya kepada ayah.
"Ayah, mengapa ibu menangis?"
Ayah menjawab, "Semua wanita memang menangis tanpa ada alasan."
Hanya itu jawapan yang dapat diberikan oleh ayah.


Setelah saya sudah remaja kira-kira umur 15tahun, saya masih penasaran dan tetap bertanya-tanya, mengapa wanita menangis. Pada suatu malam, saya bermimpi dan mendapat petunjuk daripada Allah mengapa wanita mudah sekali menangis.


Saat Allah menciptakan wanita, Dia membuat menjadi sangat penting.


Allah ciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun, bahu itu cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur.


Allah berikan wanita kekuatan untuk melahirkan zuriat dari rahimnya. Dan sering kali pula menerima cerca daripada anaknya sendiri.


Allah berikan ketabahan yang membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah di saat semua orang berputus asa.


Wanita, Allah berikan kesabaran, untuk merawat keluarganya walau letih, sakit, lelah dan tanpa berkeluh-kesah.


Allah berikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya, dalam situasi apa pun. Biarpun anak-anaknya kerap melukai perasaan dan hatinya.








Perasaan ini memberikan kehangatan kepada anak-anaknya yang ingin tidur. Sentuhan lembutnya memberi keselesaan dan ketenangan.


Dia berikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa kegentiran dan menjadi pelindung baginya. Bukankah tulang rusuk suami yang melindungi setiap hati dan jantung wanita?


Allah kurniakan kepadanya kebijaksanaan untuk membolehkan wanita menilai tentang peranan kepada suaminya.Seringkali pula kebijaksanaan itu menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap saling melengkapi dan menyayangi.


Dan akhirnya, Allah berikannya airmata agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Allah berikan kepada wanita, agar dapat digunakan di mana ia inginkan.


Hanya inilah kelemahan yang dimiliki wanita, walaupun sebenarnya, airmata!


Dari situ lah saya baru mengerti artinya air mata bagi wanita, terutama sang ibu.
Karna dia lah yang paling berarti untuk saya. Jasanya tak akan bisa tergantikan bagaimanapun caranya.
Saya bersyukur masih bisa berjumpa dengan ibu saya setiap hari, karna nanti saya ingin membahagiakan ibu, ayah, dan juga keluarga.

Mukjizat cinta seorang istri



Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya.
Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.
Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.
Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.
Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.
Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala kulli halin. “Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban.”
Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. “Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku.” Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.
Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, “Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini.” Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta’ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.
Sang suami menuturkan, “Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu’annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku.”
Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.
Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.
Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.
Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da’i besar di kota Madinah.
Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan “bukan permata biasa”. (Dari kumpulan kisah nyata, Abdur Razak bin Al Mubarak)

Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya. Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya. Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis. Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah. Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah. Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya. Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala kulli halin. “Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban.” Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. “Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku.” Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya. Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, “Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini.” Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta’ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang. Sang suami menuturkan, “Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu’annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku.” Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya. Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya. Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya. Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup. Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da’i besar di kota Madinah. Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan “bukan permata biasa”. (Dari kumpulan kisah nyata, Abdur Razak bin Al Mubarak) Sampaikan ke teman,ortu,saudara Biar jadi amal jariyah Diposkan oleh Abu Syifa Basmalah di 08:26 | Label: Akhlak dan Adab, Amal, Ilmu, Masalah keluarga, Muslimah, Mutiara Hikmah 0 KOMENTAR: POSKAN KOMENTAR LINK KE POSTING INI Buat sebuah Link Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda TAUHID Dakwah Salaf adalah Dakwah Tauhid (Download pdf buletin ini klik disini) Pesan Abu Syifa Kalender Islamic Calendar Radio Streaming Al Madinah Install Jadwal Siaran Radio Al Madinah Radio Streaming Syiar Sunnah Cara Pasang Radio Online Link Bermanfa'at Salafy Asy Syariah An Nashihah Al Makassari Ahlussunnah Jakarta Download Kajian Lengkap Nasehat Wahdah Toko Online CD Kajian Salaf Info Majelis Ilmu Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sunusi Al Ustadz Muhammad Assewed Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba’abduh Al-Ustadz Abu Mu'awiyah Hammad Al-Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray Al-Ustadz Abu Abdirrahman 'Amr bin Suroif Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu'thi Al-Maidani Al-Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin Al-Ustadz Abu Ibrahim Abdullah Al Jakarty Wacana Bermanfa'at Hidup sehat Gaya Hidup Sehat, Islami & Alami Bacaanku Majalah Salafy " Ilmiah Dan Mudah Dipahami " Jurnal Muslimah & Keluarga Sakinah Kreasiku Menerima kerja Sama Konsinyasi Pameran Harga Grosir dan Ecer Pengikut Tamu ON-line Labels Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (35) Akhlak dan Adab (67) AL-FAWAID (12) Amal (13) Anak (3) Aqidah (23) Bid'ah (19) Birul Walidain (2) BULAN SYA'BAN (1) Darah Wanita (5) Fatwa-fatwa (12) Fiqh (16) Hadits dho’if (1) Ilmu (19) Info kesehatan (13) Istiqomah (5) Jama'ah (7) JIHAD (2) KB (4) Kunci Rizki (4) Makanan (3) Manhaj (22) Masalah keluarga (24) Muslimah (25) Mutiara Hikmah (16) Nasehat (42) Nasyid-Musik (3) Nikah (4) Problema Pribadi Anda (22) puasa (4) Ramadhan (4) sahabat (2) Sholat (10) Silsilah (8) Tafsir (4) Tanya Jawab (30) Tashawwuf (3) Tauhid (12) Tawasul (4) Tazkiyatun Nufus (17) Tentang Madu dan Herbal (9) Ulama ahlus sunnah (8) Umum (49) Tegakkan Sunnah Stop Baju ketat Diatas Manhaj Yang Benar Dilarang Buang BOM disembarang tempat Buat Yang Bersemangat Blog Archive ► 2011 (52) ▼ 2010 (192) ► Desember (16) ► November (4) ► Oktober (6) ► September (7) ► Agustus (13) ▼ Juli (62) Menyambut Bulan Ramadhan, Hati-hati Ritual Anehnya... Menyambut Bulan Ramadhan, Hati-hati Ritual Anehnya... HUKUM UPACARA PERINGATAN MALAM NISFU SYA'BAN Multi Khasiat Habbatussauda (Nigella Sativa/Jinten... Bolehkah Mengusap Jilbab Ketika Berwudhu? 9 Hadits yang Berhubungan dengan Ramadhan di dalam... KUNCI-KUNCI RIZKI MENURUT AL-QUR’AN & AS-SUNNAH (1... KUNCI-KUNCI RIZKI MENURUT AL-QUR’AN & AS-SUNNAH (2... Janji Pahala Bulan Ramadhan Tauhid sebagai pondasi Tauhid Rubbubiyyah – Bukan Sekedar Pengakuan Yang pertama Tauhid Uluhiyyah – Inti Ibadah Bentuk-Bentuk kesyirikan dalam Uluhiyyah Hakekat Tashawwuf (Definisi dan Lahirnya Ajaran Ta... Hakekat Tashawwuf (Prinsip-prinsip ajaran tashawwu... Hakekat Tashawwuf (Sekte-sekte dalam ajaran tashaw... SHALAT MUSAFIR HUKUM SUJUD WAKTU-WAKTU SHALAT YANG MAKRUH BEPERGIAN YANG BOLEH MELAKUKAN SHALAT QASHAR SHALAT JAMA' TAQDIM SHALAT DALAM KENDARAAN Ketika Allah Memilihmu Untukku.. Hikmah tidur siang hukum makan kelelawar yang sebagian dari tubuhnya ... Al-Qur`an Al-Karim sebagai ring tone hp Lima Khasiat Minyak Zaitun HUKUM NASYID Malu TAWASSUL DENGAN ORANG MATI TAWASSUL DENGAN ORANG MATI (2) TAWASSUL DENGAN ORANG MATI (3) TAWASSUL DENGAN ORANG MATI (4/HABIS) 10 Tanaman Tradisional Yang Dapat Menghilangkan Ba... Arti Simbol-simbol Di Bawah Botol Plastik Manfaat Di Balik Pedasnya Cabai Muhasabah Mukjizat cinta seorang istri Bidadari, siapakah dia ? SYNDICATE PENJAHAT DGN MODUS OPERANDI TA’ARUF KHIT... Air mataku Buah Sirsak Obat Kanker Beberapa Perkara Pembatal Amalan Untuk Apa Kita diciptakan? Part 1 Untuk apa kita diciptakan part 2 Membangka

Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya.
Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.
Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.
Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.
Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.
Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala kulli halin. “Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban.”
Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. “Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku.” Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.
Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, “Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini.” Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta’ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.
Sang suami menuturkan, “Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu’annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku.”
Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.
Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.
Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.
Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da’i besar di kota Madinah.
Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan “bukan permata biasa”. (Dari kumpulan kisah nyata, Abdur Razak bin Al Mubarak)

Selasa, 20 September 2011

Isteri Solehah Lebih Baik Daripada Bidadari Syurga



Wahai, para suami, istri yang menemani kita sesungguhnya adalah bidadari yang diturunkan untuk menjadi pendamping kita di dunia. Ia juga yang kelak menemani kita saat menikmati kebahagiaan surga di akhirat.

Mari, kita kenali sifat-sifat istri yang memesona ini. Imam Ath-Thabrany mengisahkan sebuah hadis dari Ummu Salamah. "Wahai, Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli?" Beliau menjawab, "Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, serta rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar."

"Lalu, bagaimana tentang firman Allah, 'Laksana mutiara yang tersimpan baik'." (QS Alwaqi'ah [56]: 23). Jawabnya, "Kebeningannya seperti mutiara di kedalaman lautan yang tidak pernah tersentuh tangan manusia."

"Jelaskan lagi kepadaku firman Allah, 'Di dalam surga-surga itu, ada bidadari-bidadari yang baik-baik dan lagi cantik-cantik'." (QS Arrahman [55]: 70). Beliau menjawab, "Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita."

Saya berkata lagi, "Jelaskanlah firman Allah, 'Seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik'." (QS Ashshaffat [37]: 49). Beliau menjawab, "Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar."

"Manakah yang lebih utama, wanita dunia atau bidadari yang bermata jeli?" Rasulullah berkata, "Wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak dengan apa yang tak tampak."

"Karena apa wanita dunia lebih utama dari mereka?" Beliau menjawab, "Karena, shalat, puasa, dan ibadah mereka. Sehingga, Allah meletakkan cahaya di wajah mereka. Tubuh mereka seperti kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas."

Sungguh indah gambaran Nabi SAW tentang bidadari. Namun, lebih indah lagi penjelasannya tentang wanita di dunia yang taat kepada Allah. Hanya ada dua syarat untuk menjadi wanita mulia seperti itu. Pertama, taat kepada Allah dan rasul-Nya. kedua, taat kepada suami.

Minggu, 18 September 2011

HAKIKAT CINTA SUCI





Bismillaahir Rahmaanir Rahiim...

Pernikahan adalah tuntutan keagamaan dan duniawi baik bagi laki-laki maupun perempuan. Tapi, karena beberapa sebab, ia menjadi lebih urgen bagi perempuan, diantaranya :
1. Prioritas pemuda Muslim adalah bekerja dan menikah, sedangkan prioritas gadis Muslimah adalah menikah dan menjadi ibu.
2. Pemuda yang tidak menikah, akan kehilangan banyak ketenangan dan kebahagiaan, sedangkan gadis yang tidak menikah akan kehilangan sebagian besar ketenangan dan kebahagiaannya. Dalam kehidupan sehari-hari, gadis itu akan merasakan luka yang lebih mendalam daripada pemuda yang tidak menikah, baik karena aktifitasnya maupun pandangan masyarakat terhadapnya.
3. Wanita membutuhkan pria yang melindungi dan memberi rasa aman. Di masyarakat yang relatif lebih aman dan liberal sekalipun, karena wanita takut keluar atau tinggal didalam rumah sendirian setelah larut malam.
4. Citra gadis yang tidak menikah lebih mudah tercemar daripada pemuda yag tidak menikah. Kebebasannya dalam beraktifitas, bergerak, bepergian, berekreasi, dan berpakaian pun lebih terbatas.
5. Seorang guru besar Psikologi pernah mengadakan penelitian tentang mentalitas wanita. Hasilnya, 95% wanita berpikir bahwa dirinya tidak bernilai tanpa kehadiran laki-laki, dan betapa pun kerasnya soeorang wanita menolak kehadiran laki-laki, pada akhirnya dia akan menyesal.


Wallaahu A'lam, Wallaahul Musta'an…

Yaa Rabb, Yang Jauh dekatkanlah…
Yang sukar mudahkanlah… aamiin.. 

Rabu, 14 September 2011

Kepolisian Indonesia sebagai Penegak Hukum atau Penegak Keadilan atau Tidak Kedua-duanya?


Sesuai judul tulisanku diatas, semua itu merupakan sebuah pertanyaan yang terlintas di dalam bathinku sebagai masyarakat dan anak bangsa yang sangat perihatin dengan keadaan Indonesia saat ini dalam hal penegakan hukum dan keadilan di tanah air ini.
Apakah ‘hukum’ dan ‘keadilan’ di negeri ini sudah tidak bisa ditegakkan lagi oleh pengayom masyarakat seperti Kepolisian Republik Indonesia (Polri) ini?
Seperti yang dilansir dalam pemberitaan di media televisi yang berkaitan dengan kasus kecelakaan lalulintas yang menimpa saudara kita Saeful Jamil dan keluarganya di lintas jalan Tol Cipularang km 97 yang berakibat wafatnya Istri (Virginia Anggraeni/Ny. Saeful Jamil).
1315267913894226432
Kecelakaan Mobil Saeful Jamil, from google image
Dikatakan bahwa dalam dua hari kedepan Saeful Jamil akan diperiksa oleh pihak kepolisian dalam kaitan kasus kecelakaan ini, dan bila dalam pemeriksaan kasus ini didapatkan hasil adanya faktor ‘kelalaian’maka seorang Saeful Jamil akan terjerat pasal 310 ayat 1 sampai 4 undang-undang lalulintas dengan tuntutan 6 (enam) tahun penjara, karena ’sengaja’ membunuh istrinya akibat faktor kelalaian tersebut.
Saya mencoba mencermati isi pemberitaan itu, dengan fakta yang berkaitan dengan kata “kelalaian”, maka seorang Saeful Jamil akan terjerat pasal yang ada didalam undang-undang lalulintas dengan tuntutan hukum enam tahun penjara. Bukankah ini sebuah ‘keanehan’ yang terlihat jelas sebuah intrik atau permainan terhadap kewibawaan hukum itu sendiri, bahkan dapat dibilang ini sebuah menghinaan terhadap kewibawaan hukum.
Mengapa saya berani mengatakan bahwa Kepolisian Republik Indonesia sebagai Penegak Hukum atau Penegak Keadilan atau Tidak kedua-duanya???

Analisa saya sebagai berikut :
Dalam isi berita televisi tersebut bahwa Saeful Jamil bisa terjerat pasal 310 ayat 1 sampai 4 dalam undang-undang lalulintas dengan tuntutan hukum 6 tahun penjara, karena faktor kelalaian.

“Kelalaian” (dalam kamus bahasa Indonesia diartikan dengan kata ‘lalai’ : lalai   –la.lai
[a] kurang hati-hati; tidak mengindahkan (kewajiban, pekerjaan, dsb); lengah: krn — dompetnya hilang disambar copet; (2) v tidak ingat karena asyik melakukan sesuatu; terlupa: semuanya
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/lalai#ixzz1X7ZLI6RT
Dari arti kata ‘lalai’ - ‘kelalaian’ yang diungkapkan dalam kamus bahasa Indonesia, bahwa sesuai arti kata lalai itu tidak ada sama sekali ‘ungkapan’ atau ‘keterangan’ yang menjelaskan adanya faktor“kesengajaan”, jelas ini merupakan kesalahan yang sangat merugikan Saeful Jamil, dengan tuduhan bila ada faktor ‘kelalaian’, maka akan dituntut sesuai undang-undang lalu lintas tersebut dengan enam tahun penjara karena ’sengaja’ membunuh istrinya (ditambah membunuh anak dalam kandungannya, red.)
Saya hanya merasa bahwa pihak Kepolisian Kepublik Indonesia, hanya mencari ’sensasi’ dalam pemberitaan publik, tanpa memperhatikan yang namanya hati nurani, empati dan psikologi (baik massa atau perorangan)
Coba kita analisa, adakah seorang Saeful Jamil, yang seorang public figure dan memiliki kesehatan jiwa yang sangat baik, seorang Ustadz, tapi memiliki niat (niat gila, red.) untuk ‘membunuh’ secara ’sengaja’ dalam sebuah kecelakaan lalulintas itu, sekalipun itu akibat adanya faktor kelalaian???
Bukankan kelalaian juga bisa dilakukan oleh semua pihak termasuk pihak kepolisian juga, karena kelalaian itu sendiri merupakan bagian dari kehidupan yang merupakan ‘kekurangan’ yang bisa diperbaiki. Dan perlu diingat bahwa dalam bahasa psikologi kelalaian itu bisa dibagi menjadi kelalaian karena ‘kesengajaan’ atau kelalaian karena ‘tidak disengaja’.
Bila pihak kepolisian menganggap kelalaian Saeful Jamil ini diduga karena Saeful Jamil mengantuk saat mengendarai kendaraan dan ini dianggap sebagai faktor ‘kesengajaan’, coba di evaluasi lagi secara pembuktian psikologis.
Dari kronologis kejadian kecelakaan, kendaraan Saeful Jamil disalib oleh kendaraan lain dari sisi sebelah kiri secara mendadak dan mengagetkan sehingga Saeful membuang setir ke kanan dan menghantam beton pemisah jalan tol dan mobil terbalik ke sebelah sisi kanan.
Bila saat kita ’sadar penuh’ dan dikagetkan secara ‘mendadak’, apakah akan melakukan tindakan yang diluar kontrol/kendali? (dikenal sebagai refleks)
Bedakan dengan keadaan ‘mengantuk’ dan dikagetkan secara ‘mendadak’, apakah juga melakukan tindakan diluar kontrol/kendali (refleks)?
Kedua percobaan itu secara psikologi memberikan hasil yang sama, karena keduanya disebabkan akibat adanya ‘kemampuan refleks’ yang ada dalam setiap diri manusia.
Dan refleks itu sendiri secara medis/psikologis/kamus bahasa Indonesia dapat diartikan
refleks–re.fleks
[n] gerakan otomatis dan tidak dirancang terhadap rangsangan dari luar yang diberikan suatu organ atau bagian tubuh yg terkena
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/refleks#ixzz1X7ejBlbb
Jelas dikatakan dalam ‘refleks’ adanya penjelasan ‘tidak dirancang’ terhadap rangsangan dari luar (dalam hal ini kekagetan/dikagetkan) yang diberikan kepada suatu organ (dalam hal ini kesadaran)
Jadi sangatlah berlebihan yang dilakukan oleh pihak kepolisian dalam mencermati/menangani kasus kecelakaan yang dialami Saeful Jamil ini, yang tidak menimbang hal-hal yang saya uraikan diatas, apalagi kalau saya juga membahas dari segi pendapat agama, pendapat budaya dan secara simpati/empati yang melihat kasus kecelakaan ini, bahwa mana ada seorang suami yang sehat secara fisik/jiwa atau jasmani/rohani dengan sengaja melakukan pembunuhan terhadap istri dan anak dalam kandungannya seperti yang didugakan kepada Saeful Jamil.
Belum lagi bila kita menghubungkan dengan hati nuran kita sebagai sesama manusia yang memiliki suami/istri dan anak seperti Saeful Jamil yang sudah ditimpa musibah lalu pihak kepolisian menambah penderitaan itu dengan tuduhan/dugaan adanya faktor ‘kelalaian’ yang akan dijerat undang-undang lalulintas dengan tuntutan hukum penjara selama enam tahun, dimana rasa ‘empati’ dan ‘hati nurani’Kepolisian Republik Indonesia, yang sudah dengan ’sengaja’ menambah penderitaan bathin seorang Saeful Jamil dengan memenjarakannya di penjara selama 6 tahun, sudah kehilangan istri dan calon bayi dalam kandungan istrinya, harus hidup dan merengkuk dalam penjara pula, dan digenapi dengan pemberitaan yang sangat genjar disebagian media massa, bukankah ini kesalahan yang disengaja dan memberikan tekanan secara psikologis kepada seorang Saeful Jamil???
Apakah ini yang disebut Kerpolisian Republik Indonesia yang mengayomi masyarakat yang tercermin dalam semboyan Polri sebagai pengayom masyarakat???
Apakah masih patut disebut Kepolisian Republik Indonesia sebagai Penegak Hukum dan Penegak Keadilan???
Bukankan kita ketahui bersama, bila kita membaca surat keputusan pengadilan/visum et repertum/surat keterangan lainnya yang berkaitan dengan hukum pasti di bait/ kalimat paling atas tertera :  DemiHukum atau Pro Justisia dan sebagainya.
Inilah tulisanku yang sedikit mengungkapkan ‘keperihatinan’ yang terjadi dan ada saat ini di negeri tercinta INDONESIA ini, apakah masih layak hukum dan keadilan ini ditegakkan???
Dan apakah seorang Saeful Jamil masih layak mendapatkan keadilan hukum di negeri ini???

Selasa, 13 September 2011

Rumah Tangga Sebuah Amanah



Rumah Tangga Sebuah Amanah
Kewajiban paling utama, tanggung jawab paling besar, dan amanah paling berat adalah pendidikan terhadap keluarga dan bimbingan untuk rumah tangga, berawal dari diri sendiri kemudian istri, anak-anak , dan kerabatnya. Inilah yang dimaksud firman Alloh:
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارً۬ا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡہَا مَلَـٰٓٮِٕكَةٌ غِلَاظٌ۬ شِدَادٌ۬ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ (٦)
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api naar yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66:6)
Pendidikan keluarga bukan sekedar kegiatan sambilan, pemikiran sedeharna, atau upaya ala kadarnya. Namun pendidikan keluarga merupakan kebutuhan asasi dan masalah yang sangat urgen serta memiliki konsekuensi jauh ke depan dalam menentukan masa depan rumah tangga. Seorang muslim harus bertanggung jawab atas segala kekurangan dan kesesatan yang terjadi di tengah keluarganya. Dari Ibnu Umar Rodhiyalloohu ‘Anhuma berkata: aku mendengar Rosulullooh Shololloohu ‘alaihi wassallam bersabda:
Kamu sekalian adalah pemimpin, dan akan diminta tanggung jawab ataskepimpinannya, seorang imam adalah pemimpin, dan akan diminta tanggungjawab atas kepemimpinannya dan seorang laki-laki adalah pemimpin danakan diminta tanggung jawab atas atas kepemimpinannya, dan wanita adalah penanggung jawab terhadap rumah suaminya dan akan diminta tanggungjawabnya, serta pembantu penanggung jawab atas harta benda majikannya dan akan diminta tanggung jawabnya. (Shohih, diriwayatkan oleh Bukhoridalam Shohih-nya: 893, 2409, 2554, 2558, 2571, 5188, dan 7138. Muslim dalamShohih-nya: 4701, dan Tirmidzi dalam Sunan-nya: 1705)
Keluarga yang baik merupakan nikmat yang paling agung dan karunia yang palingberharga dan tidak ada yang mampu menghargai dan mengenali nilainya kecuali orang yang telah memiliki keluarga hancur dan rumah tangga berantakan sehingga kehidupan laksana terkurung oleh hawa neraka, dan hari-harinya hampir diwarnai perih dan pilu karena keluarga berantakan.
Bekal Membina Rumah Tangga
Ketahuilah bahwa berbagai macam problem kehidupan dalam rumah tangga sering timbul akibat kebodohan terutama terhadap ilmu agama. Dan sebagai obatnya adalah belajar, sebagaimana sabda Nabi Shololloohu ‘alaihi wassallam kepada para sahabat Rodhiyalloohu ‘Anhuma:
“Mengapa mereka tidak bertanya jika tidah tahu? Sesungguhnya obat kebodohan adalah bertanya”. (Hasan, diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya: 337 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya:572. Dan dihasankan syaikh al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud: 337)
Kedunguan hati dari ilmu dan kebisuan lisan dari berbicara dinyatakan sebagai penyakit. Dan obatnya adalah bertanya kepada ulama, sehingga meraih ilmu yang bermanfaat, sebab ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang terpancar dari lentera Al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman  para sahabat dan tabi’in , termasuk perkara yang terkait dengan ma’rifat kepada Alloh, hukum halal-haram, zuhud, kebersihan hati dan akhlaq mulia, serta mengatur kehidupan rumah tangga.
Ilmu yang bermanfaat berfungsi sebagai pemusnah secara tuntas dua penyakit rohani yang paling berbahaya dan menjadi biang penyakit hati yaitu syubhat dan syahwat. Maka sebagai seorang pendidik, sebelum membina keluarganya, harus membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup. Sehingga dengan bekal ilmu agama yang bermanfaat, semua urusan rumah tangga menjadi mudah dan berdakwah di tengah keluarga menjadi lancar. Apalagi bila ilmu telah meresap ke dalam hati maka akan melenyapkan penyakit syubhat dan syahwat, mencabut kedua penyakit itu sampai ke akar-akarnya. Ibaratnya orang yang sedang minum obat, segala macam kuman akan hancur dan musnah, sementara obat yang paling manjur adalah obat yang cepat meresap ke dalam tubuh dan tidak membuat kuman kebal, tetapi untuk memusnahkan.
Akhlaq Seorang Pendidik
Seorang pembina rumah tangga harus berilmu, berperangai lemah lembut, bersabar dalam mendidik, sehingga akan memberikan kesan yang baik pada keluarga, seperti firman Alloh Subhannahu Ta’ala:
فَبِمَا رَحۡمَةٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡ‌ۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَ‌ۖ فَٱعۡفُ عَنۡہُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِى ٱلۡأَمۡرِ‌ۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ (١٥٩)
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. (QS. Ali Imran [3]: 159)
Syaikhul islam Ibnu taimiyah Rohimahulloh berkata:
“Hendaknya tidak menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran kecuali setelah memiliki tiga bekal: berilmu sebelum menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, berperangai lemah lembut ketika menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran, serta bersabar setelah menyeru kebaikan dan melarang kemungkaran.” (al-Amr bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Munkar, Ibnu Taimiyah, hal. 57)
Hendaknya seorang pendidik paling terdepan dalam memberi contoh karena sangat berat ancaman orang yang tidak konsekuen terhadap ajakannya, sebagaimana sabda Nabi Shololloohu ‘alaihi wassallam:
Nanti pada hari kiamat ada seseorang didatangkan lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka ususnya keluar. Lalu ia berputar-putar di sekitar penggilingan. Kemudian penghuni neraka mengerumuninya dan bertanya, ‘Hai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu yang menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran?’ Ia menjawab, ‘Ya, aku telah menyeru kepada kebaikan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya dan aku melarang orang dari kemungkaran tetapi aku sendiri mengerjakannya.” (Shohih, diriwayatkan Imam Bukhori dalam Shohih-nya: 3267, 7098. Dan Imam Muslim dalam shohih-nya: 7408)
Hadits shohih di atas memberi petunjuk bahwa orang yang mengetahui kebaikan dan kemungakaran lalu melanggarnya lebih berat siksaannya daripada orang yang tidak mengetahuinya karena ia seperti orang yang menghina larangan Alloh dan meremehkan syari’at-Nya, sehingga ia termasuk ahli ilmu yang tidak bermanfaat ilmunya.
Wahai saudaraku, para suami…
Wahai sang suami, sungguh engkaulah pemegang kendali rumah tangga, ikatan pernikahan dan perjanjian yang berat, karena Alloh berfirman:
….. وَّاَخَذۡنَ مِنۡكُمۡ مِّيۡثَاقًا غَلِيۡظًا
Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat. (QS. 4:21)
Anda telah memikul tanggung jawab, memegang amanat dan beban rumah tangga. Hubungan penikahan merupakan kemuliaan bagi laki-laki dan perempuan, maka secara fitroh dan naluri masing-masing memiliki tugas hidup agar kehidupan rumah tangga berjalan normal dan lurus seperti firman Alloh:
ٱلرِّجَالُ قَوَّٲمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٲلِهِمۡ‌ۚ فَٱلصَّـٰلِحَـٰتُ قَـٰنِتَـٰتٌ حَـٰفِظَـٰتٌ۬ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ‌ۚ وَٱلَّـٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِى ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّ‌ۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَڪُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡہِنَّ سَبِيلاً‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّ۬ا ڪَبِيرً۬ا (٣٤)
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka [laki-laki] atas sebahagian yang lain [wanita], dan karena mereka [laki-laki] telah menafkahkan sebagian dari harta  mereka. (QS. An-Nisa’ [4]: 34)
Upayakanlah kendali rumah tangga, terutama isterimu, tetap berada di tanganmu. Jangan bersikap lemah dan tidak berwibawa serta tidak berdaya di hadapan tuntutan dan tekanan isterimu, akhirnya ia menghinamu, memperbudakmu, dan merendahkanmu sehingga kehidupan rumah tanggamu berantakan bagaikan neraka. Begitu pula, jangan engkau menghinanya dan menzholiminya, serta menganggapnya seperti barang tak berguna, sebab sikap semena-mena terhadap orang yang lemah seperti isterimu menunjukkan kerdilnya sebuah kepribadian. Terimalah kebaikan yang telah diberikan kepadamu dengan senang hati dan bersabarlah atas berbagai kekurangannya, serta jangan mengangan-angankan kesempurnaan darinya karena dia diciptakan oleh Alloh dari tulang rusuk yang bengkok sebagaimana sabda Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:
((إِنَّ الْمَرْأَةََ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ, لَنْ تَسْتَقِيْمَ لَكَ عَلَى طَرِيْقَةٍ, فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اِسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ, وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلاَقُهَا))
“Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk, ia tidak bisa lurus bersamamu di atas satu jalan. Jika kamu menikmatinya maka kamu menikmatinya dalam kondisi bengkok, namun bila anda ingin  meluruskannya, maka boleh jadi patah dan patahnya adalah talak.” (Shohih, diriwayatkan Imam Muslim dalamShohih-nya: 3631)
Wahai saudaraku, para isteri…
Setiap kesalahan yang dilakukan seorang isteri, perasaan mengikuti hawa nafsu, sikap terlalu cemburu, atau was-was hanya merupakan bisikan setan dan bersumber dari lemahnya iman kepada Alloh, sehingga rumah tangga berubah meikan bagnjadi berantakan laksana neraka dan rumah tangga menjadi porak-poranda bagaikan bangunan disambar halilintar; akibatnya, semua pihak menyesali pernikahan tersebut. Atau boleh jadi karena kesalahan isteri menjadi penyebab talak (perceraian), kemudian jiwa menjadi goncang dan ditimpa kegelisahan yang sangat berat.
Betapa indahnya bila anda meluruskan hati, ahlak, dan tabiat ketika bergaul dengan suami dan kerabat suami anda. Betapa eloknya bila anda selalu menggunakan akal sehat dan kesabaran dalam setiap menghadapi urusan rumah tangga. Betapa mulianya ketika seorang isteri mampu menjadi pendamping setia bagi suami, dan betapa agung kedudukannya di hati sang suami bahkan ia mampu memikat perasaan suami ketika sang isteri berkata: “Aku mendengar dan mentaati”.
Semoga saudariku muslimah mendapa taufiq dan hidayah dengan etika Islam, mau menyempurnakan akal pikiran dengan ilmu dan ma’rifah, dan menyembuhkan hatinya dengan keimanan kepada Alloh, sehingga kehidupan penuh dengan suasana bahagia dan hidup bersama sang suami penuh dengan ketenangan dan ketentraman serta kegembiraan.
Wahai para isteri, tunaikanlah kewajibanmu terhadap suamimu, niscaya engkau akan mendapat kasih sayang dan cintanya!.
Kewajiban Seorang Suami
Kewajiban sebagai seorang suami banyak sekali namun yang terpenting antara lain:
1.  Kewajiban materi meliputi pemberian nafkah, kebutuhan pakaian, dan kebutuhan pendidikan keluarga serta kebutuhan tempat tinggal
2.  Tidak boleh memberatkan isteri dengan mengajukan berbagai tuntutan kebutuhan di luar kemampuannya, dan tidak boleh membuat suasana kacau karena permasalahan sepele, sebagaimana yang telah diwasiatkan Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:
“Ingatlah dan berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan, karena mereka berada disisimu bagaikan pelayan, dan kalian tidak bisa memiliki lebih dari itu kecuali mereka telah melakukan perbuatan keji yang jelas.”(Shohih, diriwayatkan Tirmidzi dalam Sunan-nya: 1163 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya: 1851)
3.  Kewajiban non materi seorang suami meliputi menggembirakan isteri dan bersikap lemah lembut dalam bertutur kata. Sang suami harus bermusyawarah dan mengambil pendapat sang isteri dalam rangka menunaikan kebaikan. Begitu juga, sang suami harus berterima kasih atas jerih payah isterinya, dan tidak boleh mendiamkan di atas tiga hari karena urusan keduniaan.
4.  Hendaknya seorang suami memberi kesempatan bagi isterinya untuk beramal sholih, bersedekah dengan hartanya, memberi hadiah, menyambut tamu dari keluarga dan kerabatnya, serta setiap orang yang mempunyai hak atasnya.
5.  Hendaknya mengambil waktu yang cukup untuk tinggal di rumah dan berusaha semaksimal mungkin menghindari keluar rumah tanpa tujuan dan sering berpergian, sering keluar rumah untuk bergadang tanpa manfaat, karena yang demikian itu bisa membawa kehancuran.
6.  Hendaknya sang suami tidak melarang isterinya berkunjung kepada keluarga dan kerabatnya, asal tidak berlebihan.
7.  Wanita dalah mahluk yang lemah, maka wajib bagi laki-laki memberi perhatian cukup, melarangnya keluar ke pasar dan lainnya seorang diri, dan harus menjauhkannya dari tempat yang ikhtilath (bercampur) dankholwah (berduaan/menyepi) dengan laki-laki lain. Begitu juga seorang suami harus menjauhkan sasuatu yang merusak aqidah dan akhlaq keluarganya, dan menyingkirkan segala sarana maksiat yang menghancurkan kehormatan, seperti alat musik.
8.  Seorang suami harus mengajarkan kepada isterinya ilmu agama dan mendidiknya di atas kebaikan, serta menyiapkan segala kebutuhannya dalam rangka meraih ilmu dan istiqomah dalam beragama sesuai dengan ajaran Alloh
Kewajiban Seorang Isteri
Di antara Kewajiban sebagai Seorang Isteri yang paling utama dan prinsip, antara lain:
1. Mentaati dan mematuhi perintah suami selagi tidak menganjurkan maksiat kepada Alloh, karena tidak ada ketaatan kepada mahluk bila menganjurkan kepada maksiat dan pelanggaran kepada Alloh, seperti sabda Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam:
“Tidak ada ketaatan bagi orang yang bermaksiat kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala”. (Shahih. Diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya: 4840, at-Tirmidzi dalam Sunan-nya: 1707 dan Ibnu Majah dalam Sunan-nya: 2865 dengan lafazh Ibnu Majah serta dishahihkan Syaikh al-Albani.)
2.  Dalam bidang materi, seorang isteri harus memberikan pelayanan fisik, baik yang berkaitan dengan kebutuhan pribadi suami atau rumah tangganya, sehingga ibadah nafilah (sunnah) menjadi gugur demi menunaikan tugas tersebut.
Dari Abu Hurairoh sesungguhnya Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam: bersabda:
“Tidak boleh bagi seorang isteri berpuasa (sunnat) sementara suami ada di rumah kecuali atas izinnya (suami), tidak boleh ia mengizinkan orang lain masuk rumahnya kecuali atas izinnya (suami), dan setiap harta suami yang diinfaqkan sang isteri tanpa seizinnya, maka sang suami mendapatkan pahala separuh baginya.”(Shohih, diriwayatkan Imam Bukhari dalam Shahih-nya: 2066 dan 5360, Imam Muslim dalam Shahih-nya: 2367 dan Abu Dawud dalam Sunan-nya: 1687, 2458).
3.  Dalam bidang rohani, seorang isteri harus menjaga perasaan suami dan menciptakan suasana tenang dan kondusif dalam rumah tangga serta membantu meringankan beban dan penderitaan yang menimpa suaminya.
4.  Dalam bidang kesejahteraan, seorang isteri harus mengingatkan suami tentang kebaikan, membantu dalam kebajikan dan ketaatan, membantu dalam bidang sosial, menyantuni fakir miskin dan membantu orang-orang yang lemah untuk memenuhi kebutuhan mereka.
5.  Dalam bidang pendidikan, seorang isteri harus membantu suami dengan jiwa raga dan menerima segala nasehat dan arahannya. Begitu juga dia harus membantunya dalam mendidik dan meluruskan adab anak-anak serta menghindarkan sikap antipati dan masa bodoh terhadap masa depan pendidikan anak-anak.
6. Hendaklah seorang isteri tidak mengajukan tuntutan nafkah atau lainnya yang memberatkan suami atau mempersulit suami.
7.  Tidak berkhianat dalam dirinya, harta benda suami dan rahasia-rahasianya.
Balasan Bagi Rumah Tangga yang Berhasil
Tiada amal sholih yang dianggap sia-sia oleh agama. Setiap kebaikan sekecil apapun pasti mendapat balasan. Setiap benih kebaikan yang disemai di ladang subur, pada musim panen pasti akan memetik hasilnya, maka suami dan isteri yang telah membina rumah tangga yang baik dan mengerahkan berbagai macam pengorbanan untuk mendidik keluarga. Alloh akan memberi balasan yang besar. Cukuplah balasan nikmat baginya berupa sanjungan, pujian, dan pahala yang besar setelah wafatnya, seperti yang telah ditegaskan sebuah hadits dari Abu Hurairoh Rodhiyalloohu ‘anhu ia berkata bahwa Rosululloh Shololloohu ‘alaihi wassallam bersabda:
Jika manusia meninggal maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara,: shodaqoh jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya.” (HR. Bukhori 7/247 no.6514, dan Muslim 3/1016 no.1631)
Balasan yang lebih besar lagi, ia dikumpulkan di surga bersama para kekasih dan kerabatnya dalam satu tempat tinggal di surga, sebagai karunia dan balasan yang baik dari Alloh, seperti firman Allohu ta’ala:
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَٱتَّبَعَتۡہُمۡ ذُرِّيَّتُہُم بِإِيمَـٰنٍ أَلۡحَقۡنَا بِہِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَمَآ أَلَتۡنَـٰهُم مِّنۡ عَمَلِهِم مِّن شَىۡءٍ۬‌ۚ كُلُّ ٱمۡرِىِٕۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ۬ (٢١)
Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.Tiap-tiap manusia terikat dengan apayang dikerjakannya. (QS. 52:21)
Pembinaan rumah tangga secara baik, mampu mengangkat martabat, memperbaiki nasib rezeki, mengukir prestasi, memelihara moral generasi, dan menanggulangi dekadensi sehingga membuat hati tenang dan jiwa lapang. Maka pembinaan harus berbasis penumbuhan kesadaran, keimanan, ketaqwaan dan pengendalian diri, serta mampu membentuk suasana damai dan mesra sehingga perasaan kasih sayang tumbuh subur. Allohu musta’an